Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Tak Hanya Air Terjun dan Kebun Teh Kemuning, Berikut 5 Wisata Candi di Karanganyar yang Wajib Dikunjungi

Syahaamah Fikria • Rabu, 5 Juni 2024 | 05:08 WIB
Candi Sukuh, di Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar
Candi Sukuh, di Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar

RADARSOLO.COM -Karanganyar menyimpan banyak pesona wisata. Paling populer adalah wisata alamnya, seperti air terjun, river tubing, kebun teh Kemuning, serta wahana lainnya.

Namun, selain wisata alam, Karanganyar juga memiliki berbagai wisata sejarah dan budaya, berupa situs maupun candi.

Sejumlah candi itu bahkan sanvgat populer dan banyak dikunjungi wisatawan, seperti Candi Sukuh dan Candi Cetho.

Nah, berikut sejumlah destinasi wisata candi yang ada di Karanganyar, dan wajib dikunjungi:

1. Situs Sejarah Candi Sukuh

Situs sejarah Candi Sukuh berada di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar.

Candi Sukuh merupakan candi bercorak Hindu di masa Majapahit Akhir.

Candi berdiri di atas tanah seluas 5.500 meter persegi.

Candi terdiri dari tiga teras bersusun seperti struktur punden berundak pada tradisi Megalitik.

Di mana pada konsep Megalitik, halaman yang paling tinggi diyakini sebagai tempt yang paling suci atau sakral.

Setiap teras pada Candi Sukuh memiliki gapura.

Penyebutan pertama kali Candi Sukuh yakni pada tahun 1915 M, sesuai dengan tempat di mana Candi Sukuh berada.

Candi Sukuh buka setiap hari mulai pukul 07.00-17.00 WIB.

Beragam fasilitas tersedia di sekitar Candi Sukuh, meliputi tempat parkir, mushola, toilet, penjual cenderamata atau oleh-oleh, dan pendopo

2. Situs Sejarah Candi Cetho

Suasana di Candi Cetho
Suasana di Candi Cetho

Candi Cetho terletak di di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar.

Merupakan candi bercorak Hindu yang diduga kuat dibangun pada masa Majapahit di abad 15 Masehi.

Seperti Candi Sukuh, Candi Cetho juga menggambarkan konsep Megalitik.

Candi Cetho memiliki 13 teras berundak dari barat ke timur berdasarkan data pada tahun 1928.

Namun, upaya pemugaran pada tahun 1978 mengakibatkan teras yang ada kini tinggal sembilan.

Berwisata di Candi Cetho tak hanya bisa menyelami sejarah masa lalu.

Namun, wisatawan akan disuguhi pemandangan indah nan estetik candi yang berada di kaki Gunung Lawu.

Pengunjung pun bisa berfoto-foto estetik di objek wisata sejarah ini.

Candi Cetho buka setiap hari mulau pukul 08.00-17.00 WIB.

Baca Juga: Mengenal Astana Girilayu di Matesih, Karanganyar, Kompleks Makam Raja Pura Mangkunegaran

3 Candi Kethek

Candi Kethek yang berlokasi di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.
Candi Kethek yang berlokasi di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

Candi Kethek terletak di lereng barat Gunung Lawu, berada dalam lahan hutan pinus milik Perhutani.

Tepatnya di Dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

Lokasi Candi Kethek tak jauh dari Candi Cetho, yakni hanya sekira 300 meter.

Candi Kethek merupakan candi Hindu, yang dibangun pada akhir kekuasaan Kerajaan Majapahit.

Dinamai "kethek" atau "kera" karena konon dulunya di lokasi itu memang banyak ditemui binatang kera.

Bangunan candi itni punden berundak mirip piramida.

Keberadaan candi sudah dilaporkan sejak tahun 1842.

Namun, ekskavasi oleh Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah bersama jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Pemkab Karanganyar baru dilakukan pada 2005.

Candi Kethek buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB-17.00 WIB.

Sejumlah fasilitas yang tersedia, di antaranya pos jaga, toilet, tempat parkir dan toko oleh-oleh di Candi Cetho.

 

4. Situs Candi Planggatan

Bangunan Situs Candi Planggatan berada di kaki Gunung Lawu. Lokasinya tak jauh dari Candi Sukuh.
Bangunan Situs Candi Planggatan berada di kaki Gunung Lawu. Lokasinya tak jauh dari Candi Sukuh.

Stus sejarah Candi Planggatan berada kurang lebih 3 km di sebelah selatan Candi Sukuh.

Tepatnya di Dusun Tambak, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar.

Planggatan sebagai situs purbakala memiliki tinggalan-tinggalan berupa susunan bangunan berteras. Menunjukkan adanya susunan anak tangga sebagai penghubung halaman.

Ini mengindikasikan jika di Situs Planggatan berdiri sebuah candi.

Indikasi lain adalah adanya batu-batu candi, baik polos maupun yang berelief.

Reruntuhan batu-batuan yang merupakan bagian dari kaki candi memiliki berbagai macam bentuk relief.

Seperti orang menunggang kuda, pengawal membawa tombak, relief ganesha, lingga yoni, batu tempat sesaji dan lain sebagainya.

Salah satu relief yakni sebuah prasasti berupa sengkalan memet berbunyi Gajah wiku hanahut wulan (1378 S = 1456 M).

Tinggalan-tinggalan di situs Planggatan memberi informasi bahwa pada masa lalu situs tersebut merupakan tempat aktivitas manusia. Besar kemungkinan kegiatan itu terkait dengan religi pemujaan.

 

 

5. Situs Candi Menggung

Situs Menggung di Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar.
Situs Menggung di Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar.

Situs Menggung berada di Dusun Nglurah, Desa/Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar.

Situs Menggung atau Candi Menggung merupakan peninggalan Hindu, yang mengalami akulturasi dengan tradisi lokal.

Di sana terdapat dua arca. Yakni perwujudan dari Kyai Menggung dan Arca Durga Mahisasuramardhini atau Arca Durga Mahisasuramardhini.

Candi berupa punden berundak yang memiliki lima tingkat.

Tiap-tiap tingkat dihubungkan menggunakan tangga batu.

Berbagai artefak, seperti menhir, arca, dan yoni tersebar di tingkat-tingkat punden.

Punden Menggung menghadap ke Gunung Jogolarangan, salah satu anak Gunung Lawu.

Berbagai artefak, misal menhir, arca, dan yoni tersebar di tingkat-tingkat punden.

Sampai saat ini masih ada tradisi ritual di Situs Menggung yang dikeramatkan.

Yakni tradisi Dukutan rutin digelar warga Nglurah tiap Selasa Kliwon di wuku Dukut (kalender Jawa).

Tradisi Dukutan merupakan upacara bersih dusun yang diisi juga dengan tawuran, yakni saling lempar sesajen yang dibawa warga.

Bagi warga Nglurah, tawuran ini sebagai upaya membuang energi negatif yang jadi sumber dari segala kejahatan. (ria)

 

 

 

Editor : Syahaamah Fikria
#karanganyar #candi #wisata sejarah #Candi Sukuh #Candi Cetho #candi kethek #wisata