RADARSOLO.COM - Potensi wisata di lereng Gunung Lawu, kawasan Kabupaten Karanganyar seperti tak habis untuk digali.
Salah satu yang terbaru adalah keberadaan lahan persawahan dengan sistem terasering di Ngargoyoso, Mojogedang, Tawangmangu, Jatiyoso, Jenawi, dan Matesih.
Pemandangannya kawasan lahan persawahan di Karanganyar tak kalah elok dibandingkan Ubud, Bali.
Bedanya, di Ubud telah dikelola secara profesional sebagai destinasi wisata. Tersedia fasilitas pertunjukan musik, pentas kesenian tradisional, dan sebagainya.
Cara serupa atau bahkan inovasi lain dapat diterapkan di lereng Lawu. Apalagi, di lokasi tersebut berhawa sejuk.
Untuk menikmati hamparan persawahan terasering khas pegunungan, hanya butuh waktu sekitar 20 menit dari Kota Karanganyar.
Bagi Anda yang menggunakan roda empat, dapat menitipkan kendaraan di perkampungan warga selanjutnya berjalan sekitar 500 meter ke lokasi.
Sarjanto, salah seorang warga Desa Pablengan, Matesih mengungkapkan, sudah banyak warga yang datang ke lahan persawahan terasering hanya untuk berfoto.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke Astana Giribangun, tempat pemakamanan Presiden RI pertama Soeharto.
“Rata-rata mereka adalah anak muda. Ramainya itu setelah musim tanam nanti,” ujarnya.
Lahan persawahan terasering di Desa Pablengan sudah menjadi incarannya untuk dikembangkan menjadi objek wisata alam.
Saat ini, pemerintah kecamatan bersama pemerintah desa, dan sejumlah relawan, tengah berkoordinasi menyiapkan konsep yang apik menata persawahan tersebut.
Survei awal, area persawahan terasering di Desa Pablengan sangat cocok untuk wisata edukasi dan kuliner. (dam)
Editor : Damianus Bram