Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Mengenal Balung Kethek, Makanan Camilan Khas Karanganyar yang Terus Berinovasi Mengikuti Tren

Damianus Bram • Rabu, 26 Juni 2024 | 19:41 WIB
Camilan Balung Kethek mudah ditemui di kawasan wisata Tawangmangu.
Camilan Balung Kethek mudah ditemui di kawasan wisata Tawangmangu.

RADARSOLO.COM - Kabupaten Karanganyar tidak hanya menyuguhkan pesona alam yang menawan, namun juga menghadirkan makanan camilan khas yang nikmat.

Bagi yang doyan makanan camilan, pastinya sudah tidak asing dengan nama Balung Kethek.

Ya,  Balung Kethek adalah camilan berbahan dasar singkong ini memang sempat jarang ditemui.

Namun kini, makanan ini kembali populer sebagai salah satu makanan camilan khas Karanganyar.

Camilan jadul yang dulu dikenal keras saat digigit, kini hadir menjadi camilan kekinian dengan rasa-rasa yang baru dan tren.

Dilansir dari Jawa Pos Radar Solo, seperti yang dilakukan oleh Marno, warga Desa Sepanjang, Tawangmangu. Dia mengkreasi singkong menjadi Balung Kethek dengan beraneka macam rasa. Mulai dari pedas, manis, hingga asin.

Balung Kethek yang dia produksi bukan dari singkong sembarangan. Melainkan dari singkong jarak towo yang hanya bisa ditemui di lereng Gunung Lawu. Jadi cukup wajar jika cita rasanya berbeda dengan Balung Kethek di wilayah lain.

Proses pembuatannya, singkong diiris tipis. Kemudian dikeringkan, lalu digoreng. Terakhir, ditaburi bumbu.

Balung Kethek cocok sebagai pedamping di sela kesibukan. Bahkan bisa dijadikan oleh-oleh saat melakukan kunjungan wisata di Kabupaten Karanganyar.

”Dulu makanan ini sempat terkenal, sebelum beberapa olahan makanan cemilan yang lain masuk. Tapi diolah secara biasa, belum ada beberapa rasa Nah sekarang kami kemas bagaimana makanan ini bisa dikenal dan dirasakan semua kalangan,” ucap Marno.

Soal namanya yang unik, Marno mengatakan, Balung Kethek berarti tulang monyet. Mungkin karena ukurannya kecil dan tipis. Warnanya juga mirip tulang.

Selain itu ada cerita menarik di balik penamaan Balung Kethek. Karena saat kita menggigitnya dengan keras seperti tulang, bisa bikin kita meringis atau nyengir dan menampakkan gigi seperti monyet.

”Orang Jawa itu dalam menamakan sesuatu pasti mengacu atau mengumpamakan dengan hal-hal yang dilihat, dirasa, dan dilakoni atau dijalani. Tapi kalau Balung Kethek yang saya buat sekarang dijamin nggak bikin meringis karena renyah,” terangnya.

Menurut Marno, camilan ini sebenarnya sudah hampir hilang, tak banyak lagi orang yang membikinnya.

Dahulu Balung Kethek biasanya dibuat dari sisa-sisa rebusan ketela. Mengandalkan pemilihan bahan baku agar bisa lebih empuk dan gurih meski tanpa bumbu.

”Sebenarnya bisa dibuat dari macam-macam singkong. Tapi ternyata lebih enak dan nikmat dengan bahan singkong jarak towo asli Gunung Lawu," pungkas Marno. (dam)

Editor : Damianus Bram
#karanganyar #Balung Kethek #singkong #kuliner karanganyar