RADARSOLO.COM - Bulan Suro atau Sura adalah bulan yang menandakan awal tahun berdasarkan kalender Jawa. Di sejumlah daerah di Jawa, banyak masyarakat yang masih menggelar tradisi atau ritual khusus pada bulan Suro ini.
Salah satunya Tradisi Wahyu Kliyu yang digelar setiap bulan Suro di Kecamatan Jatipuro, Karanganyar.
Istilah Suro diambil dari bahasa Arab, yakni bulan Muharram (asyuro) yang ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender hijriyah.
Sementara Wahyu Kliyu berasal dari bahasa Arab Ya Hayyu Ya Qayyumu, mengandung makna mohon kekuatan dan kehidupan kepada Sang Pencipta.
Serta wujud syukur atas nikmat dan keselamatan yang diterima masyarakat.
Sejarah Tradisi Wahyu Kliyu
Tradisi Wahyu Kliyu semula hanya dilaksanakan di Dusun Kendal, yakni Kendal Lor dan Kendal Kidul, Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro, Karanganyar.
Tradisi ini telah digelar secara turun temurun hinggg beberapa generasi.
Bahkan, masyarakat percaya jika menghentikan tradisi Wahyu Kliyu atau sebaran apem ini, maka bisa ditimpa malapetaka.
Kini, tradisi Wahyu Kliyu ini telah menjadi kegiatan seluruh warga di Kecamatan Jatipuro.
Serta menjadi wisata budaya di Kecamatan Jatipuro.
Sebar Apem
Salah satu yang paling khas dari tradisi ini adalah gunungan apem dan sebar apem.
Ya, masyarakat bergotong-royong membuat apem alias sedakah apem dan gunungan apem.
Gunungan apem itu nantinya dikirab saat acara.
Dilanjutkan dengan lempar apem atau sebar apem.
"Wahyu Kliyu, Wahyu Kliyu," demikian kalimat yang diserukan saat memulai upacara sebar apem.
Masyarakat pun percaya apem yang disebar itu akan memberikan kesejahteraan dan keberkahan.
Wisata Budaya
Tradisi Wahyu Kliyu yang digelar setiap bulan Suro itu jadi wisata budaya di Kecamatan Jatipuro, Karanganyar.
Serta telah masuk dalam Event Kabupaten Karanganyar.
Serangkaian acara turut disajikan untuk memeriahkan gelaran tradisi Wahyu Kliyu ini setiap tahunnya.
Di antaranya pentas ketoprak, wayang kulit, campur sari, dan lainnya. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria