RADARSOLO.COM - Monumen Tanah Kritis (MTK) yang berada di Desa Sukosari, Kecamatan Jumantono, Karanganyar kini telah resmi berganti nama. Tahukah Anda jika monumen ini menyimpan sejarah tentang kondisi masa lalu Jumantono.
Monumen Tanah Kritis Ir. Bambang Soekartiko-Ir. Dwiatmo Siswomartono M.Sc.
Itulah nama baru dari Monumen Tanah Kritis di Jumantono, yang dibangun di masa Orde Baru lalu, di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.
Nama baru itu diresmikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Direktorat Jenderal Pengelolaan DAS dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH), Selasa (2/7).
Sekilas saat mengunjungi museum tersebut, memang hanya terlihat gundukan tanah gersang yang berada di dalam bangunan berbentuk joglo.
Namun, tanah gersang itu ternyata bukanlah gundukan tanah biasa. Karena menyimpan sejarah masa lalu kondisi Jumantono.
Ya, monumen seluas 9.125 meter persegi itu menyimpan tanah gersang yang diawetkan.
Tanah gersang itu adalah bukti yang tersisa dari sejarah Jumantono, yang dulunya merupakan kawasan gersang.
Tanah gersang yang diawetkan itu sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat atas kondisi Jumantono zaman dulu yang gersang dan hanya lahan kritis.
Hingga kemudian dilakukan upaya konservasi tanah dan air, Jumantono perlahan menjadi wilayah yang subur.
Dari semula hanya lahan kritis, akhirnya bisa ditanami palawija dan buah-buahan.
Bahkan, saat ini mata pencaharian terbesar wilayah itu adalah petani.
Monumen Tanah Kritis yang kini menjadi Monumen Tanah Kritis Ir. Bambang Soekartiko-Ir. Dwiatmo Siswomartono M.Sc itu bisa dikunjungi wisatawan yang ingin melihat langsung bukti sejarah masa lalu Jumantono.
Monumen buka setiap hari, dengan fasilitas arboretum, selter, saluran air dan bangunan terjunan, kantor pengelola, mushola hingga toilet.
Ketua Masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia (MKTI) Maria Ratnaningsih mengatakan, Ir. Bambang Soekartiko dan Ir. Dwiatmo Siswomartono M.Sc yang namanya disematkan di MTK adalah dua tokoh rimbawan yang memberi banyak kontribusi di bidang konservasi tanah dan air.
Dengan adanya penamaan baru itu Monumen Tanah Kritis, dia berharap dapat meningkatkan fungsinya sebagai wahana edukasi dan percontohan.
Khususnya untuk praktik dalam program konservasi.
"Karena dari sini kita dapat belajar bagaimana mengelola lahan kritis, kemudian bisa dimanfaatkan," tandas Maria. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria