RADARSOLO.COM - Kabupaten Karanganyar tidak hanya terkenal dengan destinasi pesona alamnya. Namun, juga kaya akan peninggalan sejarahnya.
Di antara penginggalan sejarah ini ada candi. Usianya sudah ratusan tahun. Namun, hingga kini masih berdiri kokoh dan terawat dengan baik. Bahkan menjadi jujukan wisatawan lokal dan asing.
Candi paling terkenal di Kabupaten Karanganyar ini adalah Candi Sukuh dan Candi Cetho. Dua candi ini memiliki beberapa persamaan dan berberdaan.
Candi Sukuh
Candi Sukuh terletak di lereng barat Gunung Lawu, di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Candi ini dibangun pada abad ke-15 pada masa akhir Kerajaan Majapahit, sekitar tahun 1437 M.
Arsitektur dan reliefnya menunjukkan pengaruh budaya Hindu-Jawa, namun dengan gaya yang unik dan berbeda dari candi-candi Hindu lainnya di Jawa.
Candi ini dikenal dengan struktur piramida berundak yang menyerupai bangunan megalitik dan memiliki banyak relief yang menggambarkan berbagai aspek kehidupan manusia dan mitologi Hindu, seperti kisah Garuda dan Bima.
Candi Cetho
Candi Cetho juga terletak di lereng Gunung Lawu, di Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Candi ini diperkirakan dibangun pada pertengahan abad ke-15, juga pada masa akhir Kerajaan Majapahit.
Candi Cetho memiliki 14 teras yang membentang dari bawah ke atas, mencerminkan konsep kosmologi Hindu. Relief dan arca yang ditemukan di candi ini menunjukkan simbol-simbol keagamaan serta motif-motif yang terkait dengan pertanian dan kesuburan.
Kesamaan Candi Sukuh dan Candi Cetho
1. Lokasi Geografis
Kedua candi terletak di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, Jawa Tengah.
Keduanya berada di ketinggian, memberikan suasana spiritual dan pemandangan yang menakjubkan
2. Periode Pembangunan
Keduanya dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-15.
Mencerminkan kepercayaan dan praktik keagamaan pada masa transisi Hindu-Buddha ke Islam di Jawa.
3. Gaya Arsitektur
Kedua candi memiliki arsitektur yang unik dan berbeda dari candi-candi Hindu lainnya di Jawa.
Menggunakan bentuk piramida berundak dan teras bertingkat yang mencerminkan konsep kosmologi Hindu-Jawa.
4. Relief dan Simbolisme
Kedua candi memiliki relief dan arca yang menggambarkan mitologi Hindu dan aspek kehidupan sehari-hari.
Terdapat simbol-simbol kesuburan dan pertanian yang penting bagi masyarakat agraris.
Perbedaan Candi Sukuh dan Candi Cetho
1. Struktur dan Tata Letak
Candi Sukuh: Memiliki struktur utama berbentuk piramida berundak yang sederhana namun unik, menyerupai bangunan megalitik.
Candi Cetho: Terdiri dari 14 teras yang membentang dari bawah ke atas, dengan setiap teras memiliki bangunan dan arca-arca yang berbeda.
2. Tema dan Fokus Relief
Candi Sukuh: Relief di candi ini banyak menggambarkan kisah mitologi seperti Garuda dan Bima, serta aspek kehidupan manusia termasuk proses kelahiran.
Candi Cetho: Relief dan arca lebih banyak menampilkan simbol-simbol keagamaan dan motif pertanian serta kesuburan.
3. Kondisi dan Pemugaran
Candi Sukuh: Telah mengalami beberapa kali pemugaran dan relatif lebih dikenal serta banyak dikunjungi wisatawan.
Candi Cetho: Juga mengalami pemugaran namun candi ini sering digunakan sebagai tempat ritual oleh komunitas spiritual setempat hingga kini
Candi Sukuh dan Candi Cetho merupakan dua peninggalan bersejarah yang penting dari masa akhir Kerajaan Majapahit. Keduanya menawarkan wawasan yang unik tentang kepercayaan, budaya, dan arsitektur pada masa itu.
Meskipun memiliki beberapa kesamaan, keduanya juga memiliki perbedaan yang mencolok dalam hal struktur, tema relief, dan penggunaan saat ini. Kedua candi ini tidak hanya menjadi warisan budaya yang berharga tetapi juga destinasi wisata yang menarik di Kabupaten Karanganyar. (*)
Editor : Kabun Triyatno