Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

BUDAYA JAWA: Legenda di Balik Terciptanya Telaga Madirda di Ngargoyoso Karanganyar

Tri wahyu Cahyono • Senin, 20 Januari 2025 | 19:38 WIB
Suasana yang ditawarkan di Telaga Madirda, Desa Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar.
Suasana yang ditawarkan di Telaga Madirda, Desa Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar.

RADARSOLO.COM- Telaga Madirda merupakan objek wisata telaga alami yang terletak di lereng Gunung Lawu.

Tepatnya di Dusun Tlogo, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar.

Telaga Madirda menawarkan keindahan, ketenangan, air yang jernih, udara sejuk, dan pemandangan asri pegunungan.

 Baca Juga: BUDAYA JAWA: Makna Simbolik 7 Motif Jarik pada Upacara Adat Mitoni

Di Telaga Madirda juga digunakan untuk Tirta Amarta, yaitu penyucian diri bagi umat Hindu.

Di balik keindahannya, Telaga Madirda menyimpan cerita, yaitu tentang perseteruan tiga saudara. Antara Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi.

Cerita bermula saat Batara Surya dan Batari Indardi sedang memadu kasih.

Batari Indardi diberi sebuah hadiah berupa Cupu Manik Astagina.

Benda ajaib yang didalamnya tersimpan keindahan alam dunia.

Tidak lama memadu kasih merekapun menyadari hubungan keduanya terancam bahaya.

Itu karena Prabu Wrehaspati ingin merebut Batari Indardi, dan mengancam menyerang khayangan.
Prabu Wrehaspati bersama patih dan para prajuritnya datang ke kayangan dengan niat ingin mempersunting Batari Indardi.

Sesampainya di kayangan, Prabu Wrehapati bertemu Batara Surya.

Batara Suryalah yang berusaha mencegah dan menggagalkan niat Prabu Wrehaspati menikahi Batari Indardi.

Baca Juga: BUDAYA JAWA: Ditarikan 9 Perempuan dan Harus Suci, Ini Makna Bedhaya Ketawang yang Disakralkan di Keraton Solo

Namun upaya tersebut tak berhasil dan berujung pada perkelahian. Batara Surya harus menerima kekalahannya.

Kemudian Batari Indardi datang ke pertapaan Resi Gotama untuk meminta pertolongan.

Resi Gotama yang memiliki jiwa penolong akhirnya membantu Betari Indardi.

Sehingga perkelahian terjadi antara Resi Gotama dan Prabu Wrehaspati.

Kesaktian Resi Gotama berhasil menundukan Prabu Wrehaspati.

Dari situ, Batari Indardi menjadi jatuh hati kepada Resti Gotama.

Menyadari hal tersebut Batara Surya pasrah dan mengikhlaskan cintanya kandas.

Seiring berjalannya waktu, Resi Gotama dan Batari Indardi dikaruniai tiga anak, yaitu Anjani, Guwarsa, dan Guwarsi.

Suatu hari Anjani sedang bermain sesuatu dan diketahui oleh Guwarsa dan Guwarsi.
Ternyata benda itu adalah Cupu Manik Astagiana yang merupakan benda milik ibunya.

Guwarsa dan Guwarsi yang penasaran mencoba merebut cupu tersebut.

Mendengar keributan anak-anaknya, Resi Gotama menemui mereka.

Resi Gotama bertanya kepada Anjani bagaimana ia biasa mendapatkan cupu tersebut.

Sang ayah mengetahui pemilik asli cupu yang tak lain adalah Betara Surya.

Resi Gotama merasa cemburu dan murka lalu melempar cupu tersebut.

Kemurkaan Resi Gotama menjalar ke Batari Indardi.

Penjelasan yang disampaikan Batari Indardi tak digubris Resi Gotama.

Hingga akhirnya Resi Gotama melontarkan kata-kata yang membuat Batari Indardi membisu dan sudah berubah menjadi arca.

Resi Gotama sadar tindakan yang dilakukannya tadi tidak benar.

Dia lalu mengutus anak-anaknya untuk mencari Cupu Manik Astagina yang telah dilemparnya.

Cupu tersebut akhirnya ditemukan di sebuah telaga nan indah.

Tiga anak Resi Gotama lalu menceburkan diri ke telaga dan malah berubah wujud menjadi kera.

Ternyata telaga tersebut merupakan perwujudan dari Cupu Manik Astagina yang dibuang oleh Resi Gotama.

Setelah berubah menjadi kera, Guwarsa dan Guwarsi berubah nama menjadi Sugriwa dan Subali.

Begitulah legenda terjadinya Telaga Madirda di Ngargoyoso, Karanganyar. (mg3/wa)

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#batari indardi #ngargoyoso #karanganyar #Batara Surya #Telaga Madirda #Resi Gotama