Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Seniman Asal Jepang Akihito Ichihara Gelar Workshop Butoh Dance di Karanganyar: Dalami Teknik Rahasia dari Sankai Juku

Mannisa Elfira • Minggu, 16 Maret 2025 | 20:05 WIB

MENDALAMI PERAN: Workshop tari Butoh yang digelar di Studio Plesungan, Karanganyar pada 12-14 Maret.
MENDALAMI PERAN: Workshop tari Butoh yang digelar di Studio Plesungan, Karanganyar pada 12-14 Maret.

 

RADARSOLO.COM - Seniman-seniman Kota Bengawan dan sekitarnya mungkin sudah tak asing lagi dengan tari Butoh.

Ada hal menarik yang tengah didalami oleh Studio Plesungan.

Butoh sudah terlacak keberadaannya di Solo dan Indonesia lewat pementasan dan workshop sejak 1970-an. Butoh merupakan seni tubuh yang dirintis pada awal tahun 1950-an di Jepang, lahir dengan kondisi sosial politik Jepang pasca perang dunia ke II.

Untuk membedah lebih lanjut, Studio Plesungan bekerja sama dengan seniman Butoh, Akihito Ichihara dalam sebuah workshop.

Pelatihan ini digelar di Studio Plesungan, Karanganyar pada 12-14 Maret.

Selama tiga hari, Ichihara (sapaan akrabnya) akan membagikan pengalaman pribadinya selama berkecimpung di dunia Butoh. Itu berdasar pada pengalaman pratiknya sendiri dan keterlibatannya dalam sebuah dance company di Negeri Sakura, Sankai Juku.

"Saya akan sharing mengenai metode fisik yang dikerjakan oleh Sankai Juku. Sankai Juku merupakan sebuah perusahaan tari yang sudah berjalan puluhan tahun, saya sudah menjadi bagian dance company ini selama 31 tahun," sebut Ichihara kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baca Juga: Pementasan Drama Meriahkan Panggung Literasi di SDIT Muhammadiyah Al-Kautsar Sukoharjo

Sankai Juku merupakan sebuah perusahaan yang cukup diakui dan populer selama puluhan tahun di kalangan internasional. Mereka bekerja dalam bingkai pertunjukan dan berkeliling ke berbagai negara.

"Pada praktik tarinya, ada metode fisik spesifik dari cara kami bergerak," lanjut Ichi-san.

Metode ini akan diajarkan kepada berbagai tipe tubuh yang tentunya berbeda-beda, agar bisa dilakukan bersama. Hal ini menjadi sebuah aktivitas yang memberikan pengalaman menarik bagi Ichihara.

"Pada metodenya, saya fokus pada bagaimana gerak itu muncul sebagai satu citra. Semacam merasakan gerakan, sehingga tercipta proses dari tubuh yang mencitrakan (misal) angin, bunga, air, alam atau lingkungan sekitarnya," lanjutnya.

Praktik tunggal ini disebut ELF. ELF telah menjalankan proyek seni berbasis tari yang melampaui perbedaan budaya, agama, dan ras di seluruh dunia dengan konsep "Dance Project without Borders".

Dalam proyek ini, Ichihara menciptakan pertunjukan dengan melibatkan penari dan seniman lokal sebagai pelaku utama.

"Sebelumnya memang proyek ini sudah berjalan di beberapa negara. Sebetulnya beberapa workshop dan pertunjukan berjalan di Asia Tenggara. Selain Indonesia, ada Singapura, Malaysia. Ini menjadi suatu rangkaian panjang dari praktek saya, semacam proyek tari tanpa batas umur dan identitas, jadi semua orang bisa mengikutinya," jelasnya.

Di dalamnya ELF ini nantinya, Ichisan akan melibatkan penari lain yang latar belakang bukan hanya butoh. Namun juga dari berbagai latar belakang penari yang lain. Seperti balet klasik, tari modern, tari kontemporer.

"Dari situ saya ingin melihat bagaimana praktik butoh itu bisa membuka kemungkinan atas praktik lainnya. Jadi tidak hanya berhenti pada bentuk konvensional dari butoh itu sendiri," lanjutnya. (nis/nik)

 

 

Editor : Niko auglandy
#Studio Plesungan #jepang #tari Butoh #Akihito Ichihara