RADARSOLO.COM - Dusun Plawan, Desa Girimulyo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar memiliki tradisi lisan yang menceritakan sejarah awal keberadaan punden Sabuk Janur.
Menceritakan kekeringan yang dialami warga sekitar, hingga akhirnya muncul sumber air. Kini, cerita sejarah tersebut direpresentasikan dalam karya seni: Tari Sabuk Janur.
Tradisi lisan terkait punden Sabuk Janur, sangat populer dan sering diceritakan oleh para sesepuh kepada generasi sekarang.
Tetapi seiring berjalannya waktu, minat masyarakat terhadap cerita atau babad ini semakin menurun. Dampak dari perkembangan media sosial dan teknologi yang semakin masif.
Menurut Kepala Desa (Kades) Girimulyo Ponco Adi Prasetyo, tradisi lisan pundek Sabuk Janur menceritakan perjalanan seorang tokoh bernama Kyai Ageng Sukuh atau Brawijaya V.
Saat itu Kyai Ageng Sukuh sedang menjalani ritual menuju puncak Gunung Lawu. Tak sendirian, dia ditemani dua pengikut setianya Dipo Menggolo dan Wongso Menggolo.
Suatu saat, tibalah Kyai Ageng Sukuh di kawasan Ngargoyoso. Di sana dia melihat potret menyedihkan dari warga. Sepanjang desa yang dilintasi, mengalami kekeringan atau krisis air bersih berkepanjangan.
Anehnya, di atas kawasan tersebut sumber airnya melimpah. Kyai Ageng Sukuh lalu mengutus dua pengikutnya untuk membantu mengalirkan air ke bawah. Hingga akhirnya mereka tiba di Sebuah desa bernama Kalitengah.
“Di sana, Dipo dan Wongso Menggolo bertemu seekor kelabang atau teripang raksasa. Oleh masyarakat di sana dikenal dengan julukan Kiongkong,” ungkap Ponco.
Mendapati kehadiran Dipo dan Wongso, Kiongkong murka. Merasa terusik wilayah kekuasannya dijajah orang asing. Hingga akhirnya perkelahian sengit terjadi antara Dipo dengan Kiongkong.
Pertarungan sengit ini akhirnya dimenangi Dipo. Padahal Dipo hanya berbekal selembar janur atau daun kelapa yang sebelumnya diikatkan di pinggang seperti sabuk. Kemenangan ini yang menobatkan Dipo sebagai Kyai Sabuk Janur.
“Mendapati Kiongkong kalah dan tak berdaya, Dipo tidak tega menghabisi nyawanya. Justru Dipo dengan welas asih mengampuni Kiongkong. Bahkan sampai mengobati luka akibat duel,” imbuh Ponco.
Sebagai balas budi, Kiongkong membantu misi Dipo untuk mengalirkan air ke desa-desa di kaki Gunung Lawu.
Caranya dengan memecahkan batu penghalang, yang sekarang menjadi sumber mata air di Dusun Plawan, Desa Girimulyo.
Tradisi lisan sebagai warisan budaya ini membutuhkan kreativitas, agar dapat diterima dan diminati generasi muda.
Inilah yang menggerakkan tokoh masyarakat Dusun Plawan Joko Sunarto, agar tradisi ini tetap lestari. Hingga akhirnya tercipta tari sabuk janur pada 2013.
Kini Tari Sabuk Janur sudah sering menghiasi panggung pementasan sejumlah event. Baik itu festival seni maupun acara-acara budaya. Bahkan, Tari Sabuk Janur juga sering dipentaskan di luar Karanganyar.
“Tari sabuk janur sangat menarik untuk diteliti. Karena adanya fenomena perubahan bentuk atau transformasi budaya, dari tradisi lisan menjadi sebuah karya pertunjukan,” urai Ponco.
Selama proses transformasi dari tradisi lisan ke karya seni tari, koreografer dituntut untuk menciptakan sebuah konsep dan ide segar. Supaya bisa menyajikan karya pertunjukan yang menarik, dibandingkan tradisi lisan yang berkembang dari mulut ke mulut.
Proses unjuk kreasi ini kemudian melahirkan kreativitas dari ide cemerlang koreografer. Setelah sukses mengubah tradisi lisan menjadi sebuah karya pertunjukan.
“Dalam pementasannya, tarian sabuk janur tidak hanya melibatkan satu atau dua orang penari. Bahkan kini melibatkan 10-15 penari. Bisa juga dibuat tari kolosal yang melibatkan ratusan hingga ribuan penari,” beber Ponco.
Sementara itu, di Desa Girimulyo terdapat empat kesenian khas lereng Lawu. Selain tarian sabuk janur, ada pula tarian sabdopalon noyogenggong dan jaran gedrug. Sampai sekarang semua tarian ini sering dipentaskan di berbagai kegiatan.
Warga berharap, pemerintah desa setempat maupun Pemkab Karanganyar selalu memberikan dukungan kepada para seniman dari Desa Girimulyo. Supaya kesenian tradisional di Bumi Intanpari tetap lestari.
“Ya kalau bisa setiap kegiatan ada pentas seni dan kebudayaan. Supaya generasi muda sekarang memahami dan tahu, ada cerita atau sejarah di Desa Girimulyo,” ujar Parman, warga Desa Girimulyo. (rud/fer)
Editor : Damianus Bram