RADARSOLO.COM – Ribuan orang tumplek blek menghadiri acara Kirab Budaya Wahyu Kliyu di Lapangan Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro, Sabtu (12/7/2025).
Mereka berebut belasan ribu apem yang disajikan dalam acara tersebut.
Salah seorang warga Dwi Maryadi, 42, mengaku antusias meski berdesakan di tengah terik matahari. Dia berhasil mengumpulkan beberapa bungkus apem yang dimasukkan ke tas kecil miliknya.
”Seru, ini dapat banyak apem. Semoga tahun depan tambah banyak,” ujarnya.
Warga lainnya bahkan rela membalik payung yang mereka bawa untuk menampung lemparan apem dari atas panggung. Hanya dalam waktu kurang dari 15 menit, 17 ribu apem yang dibagikan habis tak bersisa.
Kepala Desa Jatipuro, Rakino menjelaskan, kirab ini merupakan bagian dari upacara adat Wahyu Kliyu yang digelar setiap bulan Suro. Tahun ini, 17 gunungan apem dikirab dari rumah warga menuju lapangan.
”Gunungan berasal dari warga dan instansi di Kecamatan Jatipuro,” katanya.
Rakino menambahkan, puncak upacara digelar Sabtu (12/7) pukul 00.00. Dalam ritual sakral itu, seluruh kepala keluarga di Dusun Kendal sebanyak 316 KK akan membawa masing-masing 344 apem untuk dibagikan sebagai simbol doa keselamatan.
”Permohonan ini agar warga dijauhkan dari mara bahaya,” jelasnya.
Kegiatan adat ini juga mendapat perhatian dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Karanganyar. Kabid Kebudayaan, Heri Sutrisno menyebut, Wahyu Kliyu telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional sejak 2021.
”Tradisi ini perlu terus dilestarikan. Tahun depan akan kita buat lebih meriah,” ucap Heri.
Wahyu Kliyu menjadi daya tarik budaya sekaligus simbol kuat kearifan lokal warga Karanganyar. Tradisi apem yang lekat dengan filosofi pengharapan dan keselamatan ini terus hidup dan berkembang sebagai kekayaan budaya bangsa. (rud/adi)
Editor : Adi Pras