RADARSOLO.COM – Pemerintah Kabupaten Karanganyar resmi mematenkan pertunjukan kebudayaan dan kesenian Jaran Bigar sebagai kesenian tradisional khas daerah setempat.
Penetapan dilakukan langsung oleh Bupati Karanganyar Rober Christanto bersama Wakil Bupati Adhe Eliana dalam sebuah seremoni di pelataran belakang Rumah Dinas Bupati pada Rabu (23/7/2025) malam.
”Jaran Bigar ini akan kami patenkan sebagai tradisi kesenian Karanganyar, Kami akan menampilkannya di berbagai kegiatan, khususnya di Karanganyar, dan tentunya kami siapkan wadah bagi para pelaku seni tradisi ini agar mereka bisa berkembang,” ujar Bupati Rober, Kamis (24/7/2025).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya lokal yang selama ini hidup dalam napas masyarakat, namun belum memiliki pengakuan resmi.
Kini, Jaran Bigar tak hanya menjadi tontonan rakyat, tetapi juga tonggak identitas sejarah.
Bahkan untuk mematenkan kesenian tersebut, Pemkab Karanganyar juga membuat keris Jaran Bigar yang langsung dikerjakan dari pengrajin keris di Bumi Intanpari.
Ditempa pasangan Bupati Rober Christanto dan Wakil Bupati Adhe Eliana dan para pejabat pimpinan organisasi pemerintah daerah (OPD).
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Sengkelat Jagad Lawu Prasetyo menjelaskan, Jaran Bigar bukan sekadar pertunjukan.
Ia lahir dari rahim sejarah panjang rakyat Jawa, tepatnya pasca Perjanjian Salatiga pada 1757 yang mengakhiri konflik antara Raden Mas Said (Mangkunegara I) dan Sunan Pakubuwono III.
”Setelah perjanjian itu, para prajurit rakyat kembali ke tanah asal mereka. Mereka tidak membawa kemenangan istana, tapi membawa kehormatan perjuangan. Di tengah kepulangan senyap itulah muncul budaya Jaran Bigar,” ungkap Prasetyo.
Nama “Jaran Bigar” sendiri berasal dari dua kata Jaran (kuda) yang merupakan simbol kelincahan pasukan berkuda Raden Mas Said.
Baca Juga: Stasiun Klaten Layani 92 Perjalanan KA, Lokasi Strategis untuk Transit Wisata Solo dan Jogja
Serta Bigar yang berakar dari kata bekar atau bubar, bermakna pulang secara sadar karena misi telah selesai, bukan karena kalah.
Bukan hanya atraksi gerak dan tarian, Jaran Bigar menyimpan nilai spiritual dan filosofis mendalam.
Para mantan prajurit yang menjadi embrio budaya ini membangun padepokan kecil, ladang, dan surau di tanah kelahiran mereka. Mereka tidak membawa pulang emas, tetapi martabat.
”Bigar iku mardika, iku tumandang, iku kurbaning rahsa lan getih, iku pakurmatan kang ora bisa ditumbas (Bigar adalah kemerdekaan, perjuangan, pengorbanan rasa dan darah, serta kehormatan yang tak dapat dibeli). Begitu pepatah yang hidup dalam tradisi ini,” imbuhnya.
Dalam kirab senyap yang menjadi ciri khasnya, tidak terdengar gamelan. Hanya langkah kaki, panji, dan tulisan ”Tansah Eling, Yen Bebas Merga Tumandang” (Selalu ingat, bahwa kemerdekaan adalah karena perjuangan). (rud/adi)
Editor : Adi Pras