RADARSOLO.COM – Rencana pemerintah pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengembangkan energi panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Lawu kembali mendapat penolakan keras dari aktivis lingkungan Jagalawu (Jaga Gunung Lawu).
Menyusul adanya lelang sepuluh wilayah panas bumi tahun ini, salah satunya di kawasan Gunung Lawu Karanganyar.
Koordinator Jagalawu Aan Shopuanudin menegaskan, pihaknya tetap konsisten menolak seluruh aktivitas eksplorasi maupun pengeboran panas bumi di Gunung Lawu.
Menurutnya, kegiatan tersebut berpotensi merusak ekosistem pegunungan yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat sekitar.
”Kami sudah koordinasi dengan teman-teman yang dulu ikut aksi damai penolakan. Saat ini langkah awal sudah disusun agar kawasan Lawu tetap lestari dan bebas dari proyek geothermal. Jagalawu akan konsisten mengawal hal ini,” ujar Aan saat dihubungi Radarsolo.com, Senin (29/9/2025).
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengumumkan lelang sepuluh wilayah panas bumi tahun ini.
Rinciannya, tiga Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dan tujuh Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE).
Salah satunya berada di wilayah Jenawi dengan kapasitas 86 MW (rencana tahap awal sekitar 55 MW).
Bahlil menegaskan, lelang dilakukan secara transparan guna memberi kepastian kepada calon investor.
Kebijakan ini disebut sejalan dengan arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang mendorong reformasi regulasi dan percepatan investasi energi terbarukan di tanah air. Meski demikian bagi Jagalawu, Gunung Lawu bukan sekadar lokasi eksplorasi energi.
”Gunung Lawu memiliki nilai ekologis, historis, dan spiritual. Pengeboran hanya akan mengancam keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat sekitar,” tegas Aan. (rud/adi)
Editor : Adi Pras