RADARSOLO.COM- Hajatan budaya spektakuler digelar di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar.
Sebanyak 24 dalang tampil dalam pagelaran wayang kulit 30 jam nonstop dalam rangka memperingati Hari Wayang Dunia, Jumat (7/11/2025).
Acara digelar di kediaman Ketua DPRD Jawa Tengah Sumanto di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar.
Sumanto hadir secara langsung membuka jalannya pagelaran tersebut.
Dalam sambutannya, Sumanto menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata pelestarian seni tradisi adiluhung Jawa yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) sejak 2003.
"Wayang adalah jati diri bangsa. Kegiatan seperti ini harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda agar tidak punah oleh zaman,” ujar Sumanto.
Pagelaran yang dimulai pukul 20.00 itu berlangsung maraton selama 30 jam penuh dan menampilkan deretan dalang senior maupun muda dari Paguyuban Dalang Karanganyar.
Di antaranya dalang senior Ki Sulardiyanto Pringgo Carito, Ki Waluyo Noto Carito, Ki Sulamo Noto Carito, Ki Sujarwo Joko Prihatin, Ki Daliyun Darjo Martono, Ki Jati Gondo Sukino, Ki Sunardi Sabda Carito, hingga Ki Aris Murtopo.
Sementara dari kalangan muda dan akademisi tampil Ki Anggit Laras Prabowo, Ki Faqih Nugroho, Ki Bayu Kisworo, Ki Fajri Nur Salim, Ki Isna Indra Prasetya, Ki Dwi Hananto Bayu Aji, Ki Dr. Heru Santosa, Ki Aang Wiyatmoko, Ki Radipta Husain Asrori, Ki Canggih Tri Atmojo, dan Ki Erwanto.
Secara bergantian, para dalang membawakan rangkaian lakon kolosal Mahabharata.
Mulai dari Seta Ngaman, Bisma Gugur, Gathutkaca Gugur, Durna dan Drupada Gugur, Dursasana Gugur, hingga puncaknya Karno Tandhing dan Rubuhan Duryudana.
Pertunjukan ditutup dengan kisah simbolik Parikesit Lahir dan Pandhawa Muksa, sebagai penanda regenerasi dan harapan baru.
Paguyuban Dalang Karanganyar: Pagelaran 30 Jam Wayang Kulit Wadah Silaturahmi
Ketua Paguyuban Dalang Karanganyar menyebut pagelaran ini memiliki makna ganda. Selain merayakan Hari Wayang Dunia, juga menjadi wadah silaturahmi dan konsolidasi antardalang.
"Kami ingin menunjukkan bahwa wayang bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana pendidikan moral dan refleksi kehidupan. Semoga masyarakat, terutama generasi muda, semakin mencintai budaya sendiri,” ujarnya.
Acara yang berlangsung meriah ini juga diwarnai dengan antusiasme warga sekitar.
Suara gamelan menggema semalam suntuk, menjadi simbol semangat pelestarian seni warisan leluhur yang terus hidup di tengah arus modernitas. (rud)
Editor : Tri wahyu Cahyono