RADARSOLO.COM – Pembangunan kebudayaan di Kabupaten Karanganyar dinilai belum memiliki arah kebijakan yang jelas.
Hal itu disampaikan Fraksi Demokrat melalui juru bicaranya, Suwanto, dalam rapat paripurna DPRD Karanganyar, Kamis (20/11/2025).
Fraksi Demokrat meminta pemerintah daerah bergerak lebih konkret dan terukur, khususnya dalam menjalankan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pelestarian Kebudayaan.
Menurut Suwanto, sampai saat ini pokok pikiran kebudayaan Karanganyar masih menyisakan persoalan mendasar. Arah, pemetaan, dan realisasi pembangunan kebudayaan belum terlihat jelas.
”Berdasarkan riset dan penyusunan, pokok pikiran kebudayaan yang akuntabel dapat memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor, mulai dari pariwisata hingga ekonomi,” ujarnya.
Dia menilai kebudayaan dan pariwisata seharusnya berjalan beriringan sebagai hubungan simbiosis.
Namun, sektor kebudayaan Karanganyar selama ini hanya banyak bergerak pada panggung seni, sementara potensi lainnya belum tersentuh.
Fraksi Demokrat menilai implementasi Perda Nomor 11 Tahun 2018 belum maksimal. Perda yang memuat enam bab dan delapan fokus pelestarian mulai dari kesenian, kesejarahan, adat istiadat, hingga ornament dinilai hanya berjalan pada sebagian kecil program.
Suwanto menyoroti minimnya perhatian terhadap pelestarian kesejarahan dan adat istiadat.
Dia juga mengkritisi kurangnya pengembangan lanjutan pada aset budaya penting seperti Candi Ceto dan Candi Sukuh.
”Selama ini dua candi itu hanya dimaknai sebagai bangunan sejarah. Padahal nilai budaya dan narasinya bisa dikembangkan lebih mendalam dan berkelanjutan,” tegasnya.
Fraksi Demokrat mendesak Pemkab Karanganyar memberi atensi serius pada dua bab penting dalam Perda yakni Bab VII Pasal 18 tentang Pendataan dan Pendokumentasian dan Bab VIII Pasal 19 tentang Wujud Konkret Pengembangan Kebudayaan.
Kedua bagian itu dinilai menjadi fondasi untuk membangun narasi kedaerahan Karanganyar yang kuat, termasuk etika dan ajaran lokal yang perlu kembali disosialisasikan kepada masyarakat.
Dia juga menyinggung city branding Karanganyar yang bergeser dari “Sentral of Java” menjadi “Sentral of Nusantara.”
”Ini cara pandang dialektis untuk membenahi Karanganyar. Dimulai dari memperkuat narasi kedaerahannya melalui perencanaan program yang nyata dan berkelanjutan,” katanya. (rud/adi)
Editor : Adi Pras