RADARSOLO.COM - Sebuah rumah di Tegalwinangun, Tegalgede, Karanganyar Kota, dipenuhi pelayat, Minggu (7/12/2025) malam.
Karangan bunga berjejer rapi di halaman. Satu per satu pelayat datang, menundukkan kepala, menyampaikan doa dan penghiburan.
Di rumah duka itu, Pujo Buntoro, 55 disemayamkan—seorang ayah, suami, sekaligus petualang yang menghembuskan napas terakhir saat mengikuti Siksorogo Lawu Ultra 2025.
Pujo dikenal sebagai pribadi yang bersahaja dan mencintai alam.
Menurut sejumlah kerabat, almarhum mengikuti ajang lari lintas alam tersebut bersama sang istri, Sri Asih Handayani, yang saat ini menjabat Kepala Bagian Perekonomian Kabupaten Karanganyar.
Keduanya sama-sama dikenal gemar berpetualang, termasuk mendaki gunung dan aktivitas luar ruang lainnya.
“Beliau orangnya semangat, kalau soal kegiatan alam ya biasanya dengan istri,” ujar salah satu kerabat sambil menahan haru, saat berbincang dengan radarsolo.jawapos.com di rumah duka.
Di mata keluarga dan rekan kerja, kepergian Pujo terasa begitu mendadak.
Ia meninggalkan seorang istri dan satu anak, Ahmad Jorzizaidan, yang kini bekerja sebagai pegawai kesehatan di Bandung, Jawa Barat.
Pantauan di rumah duka, pelayat terus berdatangan hingga malam.
Doa dipanjatkan bergantian, sementara keluarga berusaha tegar menerima takdir yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Rencananya, pegawai Kemenag Surakarta itu akan dimakamkan di Makam Keprabon, Karangpandan, Senin (8/12/2025) siang.
Sejumlah rekan almarhum dari lingkungan Pemkab Karanganyar juga tampak hadir.
Tak hanya Pujo, ajang Siksorogo Lawu Ultra 2025 juga merenggut korban lain.
Adalah Sigit Joko Poernomo, 45, warga Buran, Tasikmadu, Karanganyar.
Sigit merupakan Kepala Biro Umum dan Hukum Kementerian Pariwisata RI.
Menurut informasi, Sigit Joko Poernomo akan dimakamkan Senin (8/12) di tempat pemakaman umum setempat.
Dalam rangkaian prosesi duka, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Enik Ermawati, yang akrab disapa Ni Luh Puspa, dijadwalkan melayat ke rumah duka sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Kepergian Pujo Buntoro dan Sigit Joko Poernomo meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi komunitas trail running dan dunia kerja mereka masing-masing.
Langkah mereka terhenti di jalur terjal Lawu, namun kenangan tentang semangat dan keberanian yang mereka miliki akan terus hidup di hati orang-orang yang ditinggalkan. (rud)
Editor : Tri wahyu Cahyono