Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Ini Makna dan Filosofi Siksorogo yang Jadi Nama Event Lari di Karanganyar: Bukan Menyiksa Raga

Rudi Hartono RS • Selasa, 9 Desember 2025 | 02:03 WIB

 

Komunitas Siksorogo yang menginisiasi event lari Siksorogo Lawu Ultra beberkan makna dan filosofi nama Sikosorogo. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Komunitas Siksorogo yang menginisiasi event lari Siksorogo Lawu Ultra beberkan makna dan filosofi nama Sikosorogo. (Rudi Hartono/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Komunitas lari dan olahraga alam Siksorogo yang berbasis di kawasan wisata Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar menegaskan nama Siksorogo bukan dimaknai sebagai “menyiksa raga”, melainkan filosofi untuk menembus batas diri setiap individu.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Komunitas Siksorogo, Fajar Brilianto menyusul beragam tafsir di masyarakat terkait penyebutan nama tersebut.

Terlebih setelah adanya insiden dua orang peserta kegiatan Siksorogo Lawu Ultra 2025, yang sebelumnya meninggal dunia saat mengikuti kegiatan tersebut.

Menurut Fajar, penulisan Siksorogo memang sengaja disambung dan tidak dipisah menjadi sikso rogo. Sebab, makna yang diusung bukanlah aktivitas yang menyakiti tubuh.

”Siksorogo itu menembus batas diri. Dan batas diri setiap orang itu berbeda-beda,” ujarnya.

Dia mencontohkan, kemampuan fisik antaranggota tentu tidak sama.

”Kemampuan saya dengan Pak Tony (dewan pembina,Red) saja bisa berbeda. Jadi bukan menyiksa raga, apalagi menantang alam. Tidak ada pikiran negatif di situ, karena Siksorogo itu menembus diri saja,” tegasnya.

Fajar menjelaskan, Siksorogo sejatinya bukan nama even, melainkan nama komunitas yang dibentuk sebagai sarana saling memacu dan memotivasi diri.

Aktivitas yang digelar pun beragam, mulai dari fun run hingga lari dengan tantangan elevasi khas pegunungan. Namun seluruh kegiatan tetap mengedepankan unsur keselamatan dan kebersamaan.

”Untuk kategori fun run lebih ke rekreasi. Banyak yang ikut membawa istri, anak, bahkan usia dini. Tapi kami tetap mensyaratkan izin orang tua bagi anak-anak yang ikut,” jelasnya.

Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa kegiatan Siksorogo bersifat inklusif dan ramah keluarga.

Fajar menekankan, filosofi yang dipegang komunitasnya adalah menembus batas diri, bukan pembuktian ekstrem ataupun adu nyali dengan alam.

”Batas pelari itu juga beda-beda, baik jarak maupun elevasinya. Jadi jangan dinilai secara harfiah,” katanya.

Senada, diungkapkan Pembina Siksorogo, Tony Hatmoko. Dia menegaskan, nama komunitas tersebut akan tetap dipertahankan dan tidak akan berganti nama.

”Komunitas kami tetap Siksorogo, dan tidak akan mengganti nama apa pun,” tegas Tony.

Dengan filosofi tersebut, komunitas Siksorogo berharap masyarakat dapat memahami esensi kegiatan yang mereka jalankan, sekaligus menjadikan olahraga sebagai sarana mengenal dan melampaui batas diri secara positif, dan aman. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
#tawangmangu #fun run #lari #karanganyar #siksorogo lawu ultra