RADARSOLO.COM – Sarasehan budaya bertajuk “Ada Apa Dengan Giyanti?” digelar Yayasan Suket Lawu Mawiji di Situs Perjanjian Giyanti, Kelurahan Jantiharjo, Kecamatan Karanganyar, Senin (12/1/2026) malam.
Kegiatan ini menjadi ruang refleksi untuk membaca ulang sejarah, bukan meratapi luka masa lalu.
Sejarawan dan budayawan Solo Samsul Bachri menyebut Perjanjian Giyanti sebagai titik awal runtuhnya kedaulatan Mataram melalui politik adu domba.
Pemisahan wilayah dilakukan hingga tingkat pemerintahan terkecil guna mencegah konsolidasi kekuatan.
Menurutnya, strategi tersebut memicu konflik horizontal berkepanjangan dan meninggalkan trauma kolektif yang masih terasa hingga kini. Dampaknya, masyarakat mudah diprovokasi oleh kepentingan politik.
”Dari refleksi itu, lahir semangat Mupus Giyanti sebagai upaya memutus mentalitas terpecah belah. Selain itu juga membangun kembali spirit “Mataram Binangun” sebagai landasan masa depan,” ujar Samsul Bachri, Rabu (14/1/2026).
Dalam kegiatan ini juga disebutkan Karanganyar dan Gunung Lawu dipandang sebagai pusat spiritual untuk menautkan kembali nilai-nilai Nusantara yang tercerai-berai akibat sejarah perpecahan.
Perwakilan Yayasan Suket Lawu Mawiji, Handoko menegaskan, meski Solo dan Jogjakarta berdiri sendiri secara administratif, secara spiritual keduanya perlu kembali disatukan dalam harmoni.
”Sarasehan ini menjadi bagian dari komitmen yayasan pada pilar budaya, sejarah, dan spiritual guna memperkuat kesadaran persatuan,” tandasnya. (rud/adi)
Editor : Adi Pras