RADARSOLO.COM – Progres pengembangan Bendungan Jlantah di Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar ternyata menyisakan sedikit kendala yakni masih adanya proses pembebasan lahan.
Hingga kini, tercatat masih sekitar 36 hektare lahan milik warga dan pemerintah desa belum terselesaikan, sehingga menjadi kendala utama percepatan proyek tersebut.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) Surakarta Gatut Bayuaji menjelaskan, lahan yang belum bebas tersebut terdiri dari ratusan bidang.
"Prosesnya memang memerlukan waktu karena harus melalui prosedur,” ujarnya, Senin (16/2/2026).
Ia merinci, tahapan yang harus dilalui meliputi pembentukan Satgas A dan Satgas B, penetapan lokasi (penlok), penilaian oleh appraisal, hingga identifikasi dan inventarisasi bidang tanah.
Seluruh tahapan itu wajib diselesaikan sebelum pembayaran dan pelepasan lahan dapat dilakukan.
Menurut Gatut, pihaknya menargetkan seluruh proses tersebut dapat dilalui pada 2027.
Sehingga pengembangan irigasi dan pembebasan lahan dapat rampung sesuai rencana, yakni sekitar 2027–2028.
"Untuk anggaran pembebasan lahan, itu nanti berada di luar dana pengembangan jaringan irigasi," ungkapnya.
Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum menyiapkan anggaran Rp 180 miliar untuk pengembangan jaringan irigasi Bendungan Jlantah dengan skema tahun jamak (multiyears).
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo saat meninjau lokasi proyek menegaskan, perluasan layanan air irigasi menjadi prioritas agar lebih banyak lahan persawahan memperoleh suplai air.
“Kita kejar luas layanan untuk persawahan yang sedang berproses. Air ini adalah sumber kehidupan masyarakat, jadi kita sisir mana wilayah yang masih bisa kita optimalkan,” ujarnya di sela kunjungan pekan lalu.
Apabila pembebasan 36 hektare lahan tersebut dapat dituntaskan, pengembangan Bendungan Jlantah di Kecamatan Jatiyoso diharapkan mampu memperluas jaringan irigasi sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah sekitar. (rud/adi)
Editor : Adi Pras