RADARSOLO.COM-Arsitektur rumah tradisional Jawa rupanya tidak sekadar menonjolkan keindahan bentuk visual, tetapi juga menyimpan kedalaman filosofi kehidupan.
Fakta tersebut diungkapkan oleh pakar arsitektur budaya Jawa sekaligus Dosen Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Dr. Titis Srimuda Pitana, dalam sebuah diskusi budaya yang digelar di Pendopo Sentono Macanan, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar.
Titis menjelaskan bahwa setiap elemen penyusun bangunan Jawa memiliki simbolisme yang erat kaitannya dengan kehidupan manusia dan hubungannya dengan Sang Pencipta.
Menurutnya, unsur-unsur konstruksi seperti blandar, tumpangsari, hingga soko guru bukanlah sekadar penopang fisik bangunan, melainkan sarat akan makna filosofis yang menggambarkan suluk atau perjalanan spiritual manusia.
Sebagai contoh, pada bagian atas bangunan sering dijumpai lampu robyong yang melambangkan cahaya kalbu.
Filosofi ini berkaitan dengan konsep telu sing cemepak atau tiga hal mendasar yang selalu tersedia dalam kehidupan, yakni Tuhan, tuntunan, dan utusan.
Titis menuturkan, layaknya lampu yang memberi penerangan, manusia dengan kalbu yang baik diharapkan mampu menjadi penerang bagi lingkungan sekitarnya.
Sementara itu, secara vertikal, bangunan ditopang oleh empat soko guru yang melambangkan konsep papat kiblat limo pancer, yakni harmonisasi kekuatan dari empat penjuru mata angin agar kehidupan tetap seimbang.
Anatomi Bangunan Tahan Gempa
Selain sarat makna spiritual, arsitektur Jawa juga membuktikan tingginya kecanggihan peradaban masa lalu dalam beradaptasi dengan alam.
Titis mencontohkan penggunaan umpak sebagai fondasi tiang penyangga yang sengaja dirancang tidak tertanam mati di dalam tanah. Struktur fleksibel ini membuat bangunan menjadi lebih elastis dan terbukti relatif tahan terhadap guncangan gempa.
Secara horizontal, tata ruang bangunan Jawa dianalogikan layaknya anatomi tubuh manusia, khususnya perempuan.
Bagian pendopo melambangkan wajah atau karakter orang Jawa yang terbuka dan bersifat publik.
Bagian pringgitan dianalogikan sebagai leher yang mencerminkan status sosial sang pemilik rumah.
Adapun dalem ageng, yakni ruang utama yang tertutup rapat, dimaknai sebagai rahim atau bagian yang sakral dan privat.
Di dalam dalem ageng inilah terdapat sentong kiwo, sentong tengen, dan sentong tengah yang melambangkan kesuburan serta kesucian.
Dukungan Pelestarian Budaya
Diskusi sarat ilmu tersebut mendapat dukungan penuh dari Anggota DPRD Jawa Tengah Asrar, serta Wakil Ketua DPRD Karanganyar Supriyanto.
Keduanya menilai bahwa kajian budaya komprehensif semacam ini sangat krusial untuk menjaga keberlanjutan nilai-nilai tradisi di tengah gempuran modernisasi zaman.
Mereka berharap, melalui kegiatan tersebut, masyarakat luas, terutama kalangan generasi muda, dapat semakin mendalami filosofi warisan leluhur.
Pemahaman yang utuh diyakini mampu menumbuhkan kesadaran kolektif untuk tidak sekadar melihat rumah Jawa sebagai bangunan kuno, melainkan sebagai mahakarya budaya yang harus terus dilestarikan. (rud)
Editor : Tri wahyu Cahyono