RADARSOLO.COM – Semangat kebersamaan dan pemberdayaan ekonomi umat mewarnai penyelenggaraan Pasar Ramadhan Malam Rebon di Masjid Ar-Rohmah Jengglong, Kelurahan Bejen, Kecamatan Karanganyar.
Kegiatan yang berlangsung mulai 18 Februari hingga 18 Maret ini menjadi wadah kolaborasi antartakmir masjid untuk menggerakkan pelaku UMKM di lingkungan sekitar.
Ketua Panitia, Eko Budi Raharjo menjelaskan, gagasan menghadirkan pasar Ramadhan tersebut bermula dari kegiatan studi tiru yang dilakukan para sesepuh Pengajian Malam Rebon ke Masjid Mlinjon di Klaten.
Di tempat itu, kegiatan serupa telah berjalan selama bertahun-tahun dan terbukti mampu menghidupkan perekonomian jamaah.
”Karena para sesepuh yang tergabung di Pengajian Malam Rebon mengadakan studi tiru ke Masjid Mlinjon, idenya kami bawa pulang dan adik-adik di sini membentuk pasar di kampung kita,” ujarnya di sela kegiatan.
Meski baru pertama kali digelar, kegiatan ini mampu menggandeng delapan masjid dan musala untuk berpartisipasi.
Di antaranya Masjid Ar-Rohmah, Al-Hidayah, Al-Fathonah, Mujahidin, Al-Huda, Musholla Al-Amin, serta dukungan aktif dari ibu-ibu kajian dan Karang Taruna Pandu.
Panitia juga memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan stan. Walaupun jumlah stan dibatasi delapan yang masing-masing mewakili satu masjid, setiap stan diperbolehkan menampung dua hingga tiga pelaku UMKM. Sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Dalam beberapa pekan terakhir, kegiatan sempat terkendala cuaca hujan. Meski demikian, perputaran ekonomi di pasar Ramadhan ini terbilang cukup menggembirakan.
Salah satu stan bahkan mampu mencatatkan pendapatan lebih dari Rp 7 juta sejak awal pembukaan. Secara rata-rata, setiap stan dapat meraup sekitar Rp 340 ribu saat cuaca cerah.
Ketika hujan turun, pendapatan masih relatif stabil di kisaran Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu per hari.
Saat ini, produk yang dijajakan masih didominasi menu takjil untuk berbuka puasa. Namun panitia memprediksi jenis dagangan akan semakin beragam menjelang akhir Ramadhan, seperti kebutuhan lebaran mulai dari mukena hingga pakaian baru.
Eko menilai masjid tidak hanya menjadi pusat kegiatan ibadah, tetapi juga memiliki peran penting dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Karena itu, pihaknya berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak masjid di wilayah Tegalsari dan sekitarnya.
”Ekonomi itu penting. Kami berharap masjid-masjid semakin memberikan porsi lebih pada kegiatan pemberdayaan ekonomi umat. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” tegasnya. (rud/adi)
Editor : Adi Pras