RADARSOLO.COM – Selama ini, Gunung Lawu dikenal sebagai gunung yang relatif “tenang”. Berbeda dengan Gunung Merapi yang rutin menunjukkan aktivitas vulkanik, Gunung Lawu jarang terdengar mengeluarkan lava. Catatan sejarah justru menyimpan fakta berbeda. Gunung yang berada di perbatasan Karanganyar, Magetan, dan Ngawi itu ternyata pernah mengalami letusan besar, bahkan tergolong dahsyat.
Arsip koran berbahasa Belanda, Soerabaiasch Handelsblad edisi 30 Juli 1937 ternyata mengungkap sebuah hal menarik tentang Gunung Lawu di zaman dulu. Dalam tulisan berjudul Vroegere Erupties atau Letusan yang Lalu.
Dalam laporan tersebut dijelaskan, referensi tentang Gunung Lawu memang terbatas. Ensiklopedia Hindia Belanda hanya mencatat ketinggian gunung sekira 3.265 meter, serta menyebut adanya letusan pada 1 Mei 1752 berdasarkan catatan ilmuwan masa itu.
Baca Juga: Pendaki Gunung Lawu Cedera, Tim SAR Gabungan Lakukan Evakuasi via Candi Ceto Karanganyar
Namun, jauh sebelum itu, Lawu disebut pernah menunjukkan aktivitas yang jauh lebih dahsyat. Soerabaiasch Handelsblad menjalaskan, pada abad ke-10, Gunung Lawu dilaporkan mengalami letusan besar selama sepuluh hari berturut-turut. Bahkan, pada tahun 1442, letusan berlangsung lebih lama—hingga 25 hari tanpa henti.
Letusan tersebut disebut-sebut menyebabkan perubahan besar pada bentang alam di sekitarnya, hingga dua kali mengubah lanskap wilayah.
Peristiwa dahsyat itu juga terekam dalam kisah kuno “karata basa”, yang menggambarkan kehancuran besar akibat letusan Gunung Lawu. Namun, cerita tersebut disampaikan dengan nuansa simbolik, konon untuk menghindari “kemarahan” gunung agar tidak kembali meletus.
Baca Juga: Kawasan Wisata Gunung Lawu Karanganyar Dipadati Pengunjung, Lokasi Ini Paling Banyak Dikunjungi
Dalam kisah itu, Lawu disebut dengan nama Goenoeng Katong, yang berarti “pangeran gunung-gunung”. Gunung ini bahkan disebut sebagai salah satu yang terbesar di Jawa Tengah, baik dari sisi ukuran maupun ketinggian.
Dalam catatan sejarah kuno, Gunung Lawu juga dikenal dengan sebutan Arga Doemi-lah, yang berarti “puncak yang selalu diterangi”. Julukan ini muncul karena pada masa lalu, puncaknya kerap terlihat bercahaya pada malam hari—indikasi aktivitas vulkanik yang terus berlangsung, meski tidak selalu meletus besar.
Kawahnya sendiri diperkirakan berada di sisi selatan puncak, dengan struktur cincin yang sebagian masih dapat dikenali hingga kini. (nik)
Editor : Niko auglandy