BPBD Karanganyar memberikan pelatihan Jungle Rescue yang melibatkan berbagai unsur relawan sebagai respons atas masih tingginya potensi insiden orang hilang di jalur pendakian. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)RADARSOLO.COM- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar bergerak cepat memperkuat barisan kemanusiaan guna menghadapi risiko kedaruratan di kawasan hutan dan pegunungan.
Langkah ini diwujudkan melalui inisiasi pelatihan Jungle Rescue yang melibatkan berbagai unsur relawan sebagai respons atas masih tingginya potensi insiden orang hilang di jalur pendakian Bumi Intanpari.
Kolaborasi Lintas Lembaga dan Seleksi Ketat
Kepala Pelaksana Harian BPBD Karanganyar Hendro Prayitno mengungkapkan, kolaborasi menjadi kunci utama dalam efektivitas operasi pencarian dan penyelamatan (SAR).
Pelatihan ini menggandeng institusi kompeten seperti Basarnas Surakarta, PMI, Baznas, hingga berbagai organisasi relawan lokal.
Mengingat beratnya medan hutan, panitia menerapkan sistem seleksi ketat bagi para calon peserta.
“Kami menggandeng berbagai pihak seperti Basarnas Surakarta, PMI, Baznas, dan relawan untuk bersama-sama meningkatkan kapasitas. Harapannya, ke depan kita memiliki tim yang benar-benar siap ketika terjadi kasus orang hilang di kawasan hutan maupun pegunungan,” ujar Hendro, Minggu (12/4/2026).
Proses seleksi fisik dan mental dijadwalkan berlangsung di Balai Latihan Kerja pada 25–26 April 2026.
Dari sekitar 140 pendaftar, BPBD hanya akan menyaring 70 hingga 80 orang yang dinilai paling mumpuni.
Hal ini ditekankan Hendro karena operasional di lapangan membutuhkan ketahanan yang luar biasa.
Baca Juga: Heboh Anggaran EO Tembus Rp113 Miliar, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana Beri Penjelasan
“Seleksi ini penting agar peserta yang mengikuti pelatihan benar-benar siap secara fisik dan mental, karena medan yang akan dihadapi tidak mudah,” jelasnya.
Simulasi Medan Riil dan Teknik ESAR
Setelah tahap penyaringan, pelatihan inti akan dilaksanakan selama tiga hari, mulai 1 hingga 3 Mei 2026 di Dusun Tambak, Desa Berjo.
Pemilihan lokasi ini didasarkan pada karakteristik medannya yang menyerupai kondisi riil saat operasi SAR dilakukan.
Para peserta nantinya dibekali kemampuan navigasi darat dengan peta dan kompas, teknik pertolongan pertama, hingga pengenalan metode pencarian modern berbasis Electronic Search and Rescue (ESAR).
Hendro menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan hasil evaluasi mendalam dari pengalaman penanganan kasus orang hilang di kawasan Bukit Mongkrang yang sempat menyita waktu pencarian hingga lebih dari tiga pekan.
Durasi pencarian yang panjang tersebut menjadi indikator bahwa kapasitas sumber daya manusia dan koordinasi teknis di lapangan masih perlu ditingkatkan.
“Kejadian di Mongkrang menjadi pelajaran bagi kami. Proses pencarian yang cukup lama menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas tim, baik dari sisi teknik maupun koordinasi di lapangan,” ungkap Hendro.
Mengingat wilayah Karanganyar memiliki bentang alam hutan yang luas di Kecamatan Jenawi, Ngargoyoso, dan Tawangmangu, kesiapsiagaan khusus menjadi hal yang tidak bisa ditawar.
Dengan terbentuknya tim Jungle Rescue yang terlatih, diharapkan respons terhadap setiap kejadian darurat di masa depan dapat dilakukan dengan lebih presisi, cepat, dan tepat sasaran. (rud)
Editor : Tri Wahyu Cahyono