RADARSOLO.COM - Di balik rimbunnya pepohonan di Desa Mojoroto, Kecamatan Mojogedang, Karanganyar, tersimpan sebuah situs yang tak hanya sarat nilai sejarah, tetapi juga diselimuti cerita mistis yang terus hidup di tengah masyarakat.
Tempat itu tak lain Sendang Bejen, yang menjadi magnet baru bagi peziarah untuk mencari ketenangan batin.
Bukan sekadar sumber mata air, sendang ini dipercaya menyimpan jejak tak kasat mata.
Baca Juga: Kisah-Kisah Mistis Penjaga Alas Bromo Karanganyar, Ketukan Pintu hingga Tangisan Perempuan
Terutama peninggalan perjuangan KGPAA Mangkunegara I atau Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa, saat melawan penjajah Belanda di Bumi Intanpati.
Cerita yang berkembang di masyarakat, Sendang Bejen dulu merupakan salah satu titik penting dalam strategi perang gerilya Pangeran Sambernyawa. Di tempat yang kini tampak tenang tersebut, konon Pangeran Sambernyawa menyusun taktik perlawanan untuk mengusir penjajah.
“Dulu diyakini sebagai tempat berkumpul dan menyusun siasat perang. Bahkan ada yang percaya, pusaka-pusaka beliau masih tersimpan secara gaib di sini,” ujar tokoh masyarakat Desa Mojoroto Dwi Suroto, Jumat (17/4).
Baca Juga: Tradisi Mistis Malam Satu Suro di Solo Kembali Digelar, Ini Jadwal Lengkapnya
Kepercayaan tersebut membuat aura Sendang Bejen terasa berbeda. Selain kental dengan nilai historis, warga sekitar juga meyakini adanya sosok tak kasat mata yang menjaga kesucian lokasi tersebut.
Sejumlah cerita menyebut kemunculan sosok ular besar dan kuda putih, yang diyakini bukan satwa biasa. Keduanya disebut sebagai penjaga kawasan sendang. Tak hanya itu, ada pula sosok kakek berjanggut putih, yang dipercaya sebagai penunggu paling tua.
“Tidak semua orang bisa melihat. Biasanya hanya yang punya kepekaan tertentu yang bisa melihat,” imbuh Suroto.
Dibalik misteri tersebut, suasana sendang yang sejuk dan tenang justru menjadi daya tarik tersendiri bagi peziarah. Dalam beberapa bulan terakhir, jumlah pengunjung meningkat signifikan. Mereka datang dari berbagai daerah, tidak hanya dari Karanganyar.
Aktivitas paling ramai terjadi pada malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon (penanggalan Jawa). Peziarah biasanya melakukan ritual mandi di pancuran sendang, dilanjutkan doa atau zikir di sekitar lokasi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Sendang Bejen tidak hanya dipandang sebagai situs sejarah, tetapi juga ruang spiritual yang dipercaya memiliki energi tersendiri. Terlepas benar tidaknya kisah yang berkembang, Sendang Bejen kini menjadi bagian dari warisan budaya lokal yang terus dijaga.
Perpaduan antara sejarah perjuangan dan nuansa mistis, menjadikan tempat ini memiliki daya tarik yang sulit diabaikan. Bagi sebagian orang, Sendang Bejen adalah sumber air biasa. Namun bagi yang lain, tempat ini diyakini menyimpan jejak perjuangan sekaligus misteri yang belum sepenuhnya terungkap. (rud/fer)
Editor : fery ardi susanto