RADARSOLO.COM – Upaya mendorong pertanian ramah lingkungan terus digencarkan di Kabupaten Karanganyar.
Kali ini, warga Desa Kadipiro, Kecamatan Jumapolo mendapat pelatihan pertanian organik melalui program yang digelar Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Karanganyar, Kamis (23/4/2026).
Kegiatan tersebut dikemas dalam program pendidikan dan pelatihan bertajuk Sekolah Lapang Pertanian Modern Sistem Organik (SLPMO).
Program ini menjadi langkah konkret AB2TI dalam membangun kesadaran petani terhadap pentingnya sistem pertanian berkelanjutan.
Baca Juga: Menanti Taji Posbankum Desa: Tameng Hukum bagi Warga Kecil di Karanganyar
Ketua AB2TI Karanganyar Antonius Suratno menegaskan, inti dari kegiatan ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan mengubah pola pikir petani dalam mengelola pertanian.
”Kita tidak menolak ilmu teknologi modern, tetapi teknologi modern yang merusak lingkungan wajib ditolak. Karena melestarikan alam adalah kewajiban moral,” tegasnya.
Menurut Antonius, pendekatan pertanian yang dikembangkan dalam program ini menekankan empat prinsip utama, yakni ramah lingkungan, ekonomis, berkeadilan sosial, serta berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.
Baca Juga: Mediasi Buntu, Korban Jeratan Kabel Wifi di Sragen Belum Terima Ganti Rugi
Dengan pendekatan tersebut, diharapkan petani tidak hanya mengejar hasil panen, tetapi juga menjaga keseimbangan alam.
Ia menilai, selama ini masih banyak praktik pertanian yang cenderung eksploitatif dan bergantung pada bahan kimia. Sehingga berdampak pada kerusakan lingkungan dan menurunnya kualitas tanah.
Melalui SLPMO, para petani diajak kembali memahami cara bertani yang lebih bijak, dengan memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem.
Baca Juga: Kebakkramat Juarai Lomba B2SA Karanganyar, Bukti Kreativitas Olah Pangan Lokal
”Tujuan besar kami adalah mewujudkan pertanian berkelanjutan di Bumi Intanpari sebanyak-banyaknya. Ini menjadi misi gerakan kami di Karanganyar,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu peserta dalam pembelajaran tersebut, Winarsih, 42, mengaku kegiatan tersebut memberikan wawasan baru bagi para petani, khususnya dalam memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dalam praktik pertanian.
”Kami jadi lebih paham bagaimana bertani yang baik tanpa merusak alam. Harapannya ilmu ini bisa diterapkan dan bermanfaat bagi petani ke depan,” ujarnya.
Baca Juga: Dukung TMMD, Pasukan Artileri Pertahanan Udara Tiba di Sragen
Program ini pun mendapat respons positif dari warga. Selain mendapatkan pengetahuan baru, para petani juga didorong untuk lebih mandiri dan tidak bergantung pada input pertanian berbahan kimia.
Melalui pelatihan berkelanjutan tersebut, diharapkan nantinya semakin banyak petani yang beralih ke sistem organik, sehingga mampu menciptakan pertanian yang sehat, produktif, dan berkelanjutan di masa depan. (rud/adi)
Editor : Adi Pras