RADARSOLO.COM - Di balik ketenangan kompleks Makam Nyi Ageng Karang di Dusun Loji, Kelurahan/Kecamatan Karanganyar Kota, tersimpan kisah panjang yang memadukan sejarah, legenda, dan kepercayaan masyarakat.
Sosok yang dimakamkan di tempat tersebut, yakni Nyi Ageng Karang atau Nyi Sulbiah, diyakini peran penting dalam cikal bakal berdirinya Kabupaten Karanganyar.
Bukan rahasia umum jika Makam Nyi Ageng Karang tak hanya menjadi tujuan ziarah masyarakat umum, tetapi juga kerap didatangi pejabat.
Mereka datang dengan harapan memperoleh ketenangan batin, bahkan wangsit atau petunjuk dalam menjalankan kepemimpinan.
Baca Juga: 39 Kepala SD dan SMP di Karanganyar Terima SK Pengangkatan, Ini Pesan Tegas Bupati
Menurut perspektif sejarah, Nyi Ageng Karang dikenal sebagai tokoh perempuan berpengaruh pada masa perjuangan melawan kolonial Belanda. Ia disebut-sebut memiliki hubungan erat dengan KGPAA Mangkunegara I, Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa.
Sejarawan asal Karanganyar Suprapto menjelaskan, kisah Nyi Ageng Karang tidak bisa dilepaskan dari perpaduan antara fakta sejarah dan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat.
Baca Juga: Menanti Taji Posbankum Desa: Tameng Hukum bagi Warga Kecil di Karanganyar
Dalam catatan sejarah dan tutur masyarakat, Nyi Ageng Karang diyakini sebagai tokoh yang membantu perjuangan Raden Mas Said.
“Namun, unsur wangsit dan petunjuk gaib sering mengiringi. Sebagai bagian dari kepercayaan yang berkembang secara turun-temurun,” jelas Suprapto.
Salah satu cerita yang paling dikenal, yakni pertemuan antara Nyi Ageng Karang dan Raden Mas Said.
Konon, dalam masa pengasingannya, Nyi Ageng Karang mendapatkan petunjuk gaib, akan bertemu seorang ksatria yang dikawal tiga pengikut.
Pertemuan tersebut diyakini menjadi awal keterlibatannya dalam perjuangan melawan penjajah.
Selain itu, nama “Karanganyar” disebut-sebut berasal dari wilayah tempat tinggal Nyi Ageng Karang yang kemudian menjadi basis persembunyian dan strategi perjuangan Pangeran Sambernyawa.
Hingga kini, tradisi ziarah ke Makam Nyi Ageng Karang masih terus dilestarikan. Terutama menjelang peringatan Hari Jadi Kabupaten Karanganyar.
Baca Juga: Ironis! Dari 1.300 Koperasi di Karanganyar, Hanya 10 Persen yang Sehat
Bagi sebagian kalangan, ziarah bukan sekadar ritual, melainkan bentuk penghormatan atas jasa tokoh pendiri daerah.
Meski demikian, Suprapto mengingatkan agar masyarakat dapat memilah antara nilai sejarah dan mitos yang berkembang.
“Kita perlu menghargai nilai budaya dan kearifan lokal, tetapi juga penting memahami mana yang merupakan fakta sejarah dan mana yang menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Terlepas dari perdebatan antara mitos dan fakta, sosok Nyi Ageng Karang tetap menjadi figur sentral dalam narasi sejarah Karanganyar.
“Sosok perempuan yang dikenang bukan hanya karena perjuangannya, tetapi juga jejak spiritual yang masih hidup hingga kini,” imbuh Suprapto. (rud/fer)
Editor : fery ardi susanto