RADARSOLO.COM-Pemanfaatan Bendungan Jlantah di Kecamatan Jatiyoso, Karanganyar, terus didorong menjadi salah satu strategi utama dalam menjaga ketahanan pangan daerah.
Infrastruktur yang berada di kawasan lereng Gunung Lawu ini diproyeksikan untuk menopang stabilitas pasokan air pertanian di tengah meluasnya laju alih fungsi lahan sawah.
Komisi II DPR RI bersama Pemkab Karanganyar menekankan urgensi pembangunan jaringan irigasi primer dan tersier yang terintegrasi dari bendungan tersebut.
Baca Juga: Geliat Pasar Sapi Jatinom Jelang Idul Adha: Diburu Pembeli dari Luar Provinsi, Harga Naik Rp 2 Juta
Melalui optimalisasi distribusi air ini, Kabupaten Karanganyar diproyeksikan mampu menambah luas area tanam hingga 1.500 hektare lahan persawahan baru guna mendongkrak volume produksi pangan di Jawa Tengah.
Dalam peninjauan kerja ke lokasi, Wakil Ketua Komisi II DPR RI Aria Bima menjelaskan bahwa penguatan jaringan pengairan Waduk Jlantah merupakan langkah mitigasi yang strategis untuk menyeimbangkan akselerasi investasi dengan kelestarian lahan sawah yang dilindungi (LSD).
“Pemanfaatan Waduk Jlantah harus benar-benar diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga ekologi kawasan. Di tengah perkembangan wilayah yang semakin pesat, sektor pertanian tetap harus menjadi prioritas,” kata Aria Bima, Minggu (24/5/2026).
Pembangunan infrastruktur irigasi ini juga dimaksudkan sebagai solusi menghadapi tantangan perubahan iklim yang kerap memicu anomali pola tanam akibat fluktuasi ketersediaan air permukaan.
Bupati Karanganyar Rober Christanto menyatakan bahwa implementasi program di lapangan membutuhkan dukungan penganggaran dan sinergi kebijakan yang konsisten antara pemerintah pusat dengan daerah.
Perlindungan terhadap kawasan pertanian produktif menjadi komitmen utama pemerintah daerah di tengah laju urbanisasi koridor Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang).
“Pemanfaatan Waduk Jlantah bukan hanya soal irigasi, tetapi juga tentang menjaga masa depan pertanian Karanganyar. Kami ingin pembangunan tetap berjalan tanpa mengorbankan lahan produktif dan keseimbangan lingkungan,” ujar Rober.
Selain mengemban fungsi fundamental di sektor agronomi, kompleks Bendungan Jlantah secara topografi juga memiliki potensi sekunder untuk dikembangkan menjadi kawasan konservasi lingkungan serta destinasi wisata alam terpadu.
Kendati demikian, Pemerintah Kabupaten Karanganyar menegaskan bahwa fungsi hulu waduk sebagai penyedia air baku bagi lahan pertanian tetap ditempatkan sebagai prioritas tertinggi.
Seluruh proyek pengerjaan fisik ke depan akan difokuskan pada penguatan pipa distribusi air jarak jauh agar manfaat bendungan dapat bertahan dalam jangka panjang. (rud)
Editor : Tri Wahyu Cahyono