Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

DPRD Karanganyar Desak Regrouping SDN Krisis Murid

Rudi Hartono RS • Jumat, 26 Juni 2026 | 18:18 WIB

 

Seorang anak melintas di depan SDN 4 Tunggulrejo, Kecamatan Jumantono yang mengalami krisis murid karena tidak ada yang mendaftar dalam SPMB 2026. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Seorang anak melintas di depan SDN 4 Tunggulrejo, Kecamatan Jumantono yang mengalami krisis murid karena tidak ada yang mendaftar dalam SPMB 2026. (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Kabar krisis murid yang dialami sejumlah SD negeri dalam sistem penerimaan murid baru (SPMB) 2026, akhirnya sampai ke telinga DPRD Karanganyar.

Legislatif mengaku prihatin akan kondisi tersebut. Dewan mendesak adanya evaluasi besar-besaran, hingga regrouping sekolah.

Sebagai catatan, dalam SPMB 2026 terdapat sejumlah SDN yang tidak ada pendaftar. Di antaranya SDN 4 Tunggulrejo, Jumantono; SDN 3 Blumbang, Tawangmangu; SDN 4 Seloromo, Jenawi; dan SDN 1 Jatiwarno, Jatipuro.

Baca Juga: Nihil Pendaftar Murid Baru, SDN 3 Blumbang di Karanganyar Siapkan Program Unggulan

Bahkan SDN 3 Blumbang sudah tidak lagi menerima murid baru sejak tiga tahun terakhir. Total hanya memiliki 13 murid, yang tersebar di kelas IV, V, dan VI.

Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Komisi D DPRD Karanganyar Bobby Aditya Putra mengaku ini tamparan keras bagi Dinas Pendidikan dan kebudayaan (disdikbud).

Fenomena ini dampak dari krisis kepercayaan publik terhadap kualitas sekolah negeri. Sebab masyarakat lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah swasta.

Baca Juga: Sragen Dapat Bantuan Keuangan Khusus Rp 27,6 Miliar dari Pemprov Jateng, Ini Proyek yang Jadi Prioritas

“Mendengar informasi ada SD negeri yang sama sekali tidak ada pendaftarnya, ini tamparan keras bagi pemerintah. Ini harus menjadi evaluasi dan koreksi besar,” kata Bobby, Jumat (26/6/2026).

Politisi PDI Perjuangan ini juga menyoroti pergeseran tren di masyarakat, yang pilih memprioritaskan sekolah swasta.

Bobby menegaskan, pemerintah daerah harus berbenah dari segala aspek demi mengembalikan marwah sekolah negeri.

Baca Juga: 122 Anak di Karanganyar Terpapar TBC, Dinkes Beberkan Wilayah Persebarannya

Trust (kepercayaan) masyarakat harus dikembalikan. Maka harus berbenah dari segi kualitas, pelayanan, dan semua aspek lainnya. Supaya sekolah negeri ke depan lebih kompetitif," jelasnya.

Solusi lainya yang ditawarkan, yakni penggabungan sekolah alias regrouping. Terutama sekolah-sekolah yang sudah tidak memiliki peminat.

“Jika berdasarkan kajian dinilai lebih efektif dan kompetitif untuk regrouping, maka langkah itu harus ditempuh,” tegasnya.

Baca Juga: PCNU Sragen Dukung Muktamar di Ponpes Lirboyo, Ini Alasannya

Sementara itu, Bobby berharap disdikbud mengambil keputusan terbaik untuk mengatasi permasalahan yang ada saat ini. Keputusan akhir nanti harus tetap bersandar pada hasil asesmen komprehensif di lapangan.

“Intinya, jika potensinya memang mengarah ke regrouping agar lebih efektif, kami akan mendukung. Tapi ditunggu dulu hasil kajian resminya dari dinas terkait,” bebernya. (rud/fer)

 

Editor : Adi Pras
#tawangmangu #jenawi #karanganyar #spmb #jumantono