Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kegelisahan Empu Keris Asal Palur Karanganyar: Belum Ada Sosok Pengganti

Alfida Nurcholisah • Senin, 29 Juni 2026 | 18:34 WIB
Subandi dibantu beberapa orang menempa keris di Omah Keris, Palur, Karanganyar, Senin (29/6). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
Subandi dibantu beberapa orang menempa keris di Omah Keris, Palur, Karanganyar, Senin (29/6). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO) 

RADARSOLO.COM - Membuat keris tak hanya soal menempa besi. Empu Subandi mengungkap laku spiritual, teknik pembuatan, hingga kekhawatirannya soal regenerasi.

Denting palu yang menghantam besi pijar bersahut-sahutan dengan semburan bara api dari tungku.

Asap tipis mengepul dari sebuah besalen sederhana di sudut Omah Keris, Palur, Karanganyar.

Di tempat itulah Empu Keris Subandi Suponingrat menghabiskan sebagian besar hidupnya menjaga nyala tradisi yang telah diwariskan berabad-abad.

Baca Juga: Sidak PT KMR di Karanganyar, Dirut Bulog Minta Minyakita Berbau Solar Ditarik dari Peredaran

Usianya kini 69 tahun. Namun tangannya masih cekatan mengangkat palu, membalik bilah besi yang memerah, lalu menempanya perlahan hingga membentuk sebilah keris.

Menariknya, perjalanan Subandi menjadi seorang empu justru tidak berawal dari lingkungan keluarga pembuat keris.

"Saya waktu itu hanya datang melihat prosesnya. Tahunya keris ya hanya dipakai pengantin. Setelah melihat, saya belajar sendiri karena guru empu sudah hampir tidak ada," kenangnya saat ditemui di Omah Keris, Senin (29/6).

Baca Juga: Disdikbud Karanganyar Larang Sekolah Jual Seragam

Awal perjalanannya bermula pada 1979 ketika seorang peneliti asal Jerman bernama Detrik mencari keluarga empu yang masih tersisa di Indonesia.

Pertemuan itulah yang membangkitkan rasa ingin tahu Subandi terhadap dunia perkerisan.

Di tengah langkanya guru dan masih eksklusifnya pengetahuan keris yang berpusat di lingkungan keraton, ia memilih belajar secara otodidak.

Bersama beberapa rekannya, Subandi mulai merekonstruksi berbagai motif pamor yang kala itu nyaris hilang.

Dedikasinya membuat ia kemudian dipercaya mengajar di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), yang kini berkembang menjadi Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.

Ia menjadi salah satu empu pertama yang membawa seni tempa keris masuk ke lingkungan akademik. Namun, baginya, belajar keris tak boleh berhenti di ruang kelas.

Keinginan membuka akses seluas-luasnya mendorong Subandi mendirikan Omah Keris pada 1998. Saat itu lokasi tersebut masih berupa kebun bambu.

Baca Juga: Dari Lereng Lawu Karanganyar, Merti Gunung Serukan Harmoni Manusia dengan Alam

Sedikit demi sedikit ia membangun besalen agar siapa pun dapat belajar, mulai dari mahasiswa, masyarakat umum, peneliti, hingga tamu dari mancanegara.

"Di kampus terbatas. Saya ingin teman-teman di luar kampus juga bisa belajar keris," ujarnya.

Kini Omah Keris bukan sekadar bengkel tempa. Tempat itu menjelma menjadi ruang pelestarian budaya, tempat tradisi diwariskan melalui praktik langsung.

Bagi Subandi, membuat keris bukan sekadar menyatukan besi dan baja. Ada laku batin yang menyertai setiap bilah pusaka.

"Kalau membuat keris itu ada laku yang dijalani. Memilih hari yang neptunya 40, kemudian puasa mutih tiga hari tiga malam. Itu sudah menjadi bagian dari tradisi," tuturnya.

Secara teknis, pembuatan keris juga membutuhkan ketelitian tinggi. Besi menjadi bahan utama, sedangkan baja disisipkan di bagian tengah sebagai penguat bilah setelah susunan pamor selesai dibuat.

"Baja tidak dicampur dari awal. Setelah bahan pamor disusun, baja diselipkan sebagai penguat, terutama pada bagian tajamnya," jelasnya.

Meski menggunakan bahan, ukuran, bahkan dibuat oleh empu yang sama, Subandi memastikan tak ada dua keris yang benar-benar identik. Menurutnya, setiap bilah menyimpan karakter pembuatnya.

"Walaupun sama-sama luk tiga, dibuat orang yang sama, bahannya sama, hasilnya tetap tidak akan persis sama. Pamor dan karakternya pasti berbeda. Sama seperti manusia, kembar pun tidak benar-benar sama," katanya.

Sejak mulai menempa pada awal 1980-an, ribuan keris telah lahir dari tangannya. Namun pencapaian itu justru diiringi kegelisahan yang terus membayangi.

Ia mengaku belum melihat sosok yang benar-benar siap meneruskan peran empu secara utuh.

Sebab itu, selain terus menempa keris, Subandi juga berupaya menjaga keberlangsungan tradisi melalui pendidikan di ISI Surakarta.

Baginya, regenerasi adalah satu-satunya cara agar warisan budaya tersebut tidak berhenti pada generasinya.

"Harapannya ilmu ini tidak putus. Saya khawatir karena sampai saat ini belum ada gambaran pengganti saya untuk melestarikan keris ini," pungkasnya.

Di usia yang tak lagi muda, suara palu masih rutin menggema dari besalen Omah Keris.

Selama bara api di tungkunya tetap menyala, Subandi akan terus menempa bilah demi bilah pusaka—sembari berharap suatu hari nanti akan lahir tangan-tangan baru yang melanjutkan nyala tradisi perkerisan Nusantara. (alf/bun)

Editor : fery ardi susanto
#empu keris #empu subandi #palur karanganyar #omah keris