RADARSOLO.COM – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar menggelar tradisi Jamasan Pusaka Kyai Pamot dan Kyai Jaran Bigar di halaman rumah dinas bupati, Kamis malam (2/7/2026).
Prosesi yang diwariskan turun-temurun ini bukan sekadar ritual membersihkan pusaka, namun juga memperkuat jati diri daerah dan menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.
Jamasan dibuka Bupati Karanganyar Rober Christanto didampingi Wakil Bupati (Wabup) Adhe Eliana, sekda, jajaran organisasi perangkat daerah (OPD), badan usaha milik daerah (BUMD), tokoh masyarakat, budayawan, serta ratusan warga.
Baca Juga: Dikira Hanyut di Jembatan Jurug, Remaja asal Karanganyar Ternyata Terekam CCTV Pergi Jalan Kaki
“Pusaka bukan hanya benda bersejarah, tetapi simbol jati diri, semangat, dan karakter masyarakat Karanganyar. Yang dirawat bukan hanya pusakanya, tapi juga nilai-nilai luhur di dalamnya,” kata Rober.
Prosesi jamasan mengikuti tata cara adat yang telah diwariskan turun-temurun. Air jamasan melambangkan mensucikan diri.
Sedangkan Pusaka Kyai Pamot dan Kyai Jaran Bigar dimaknai sebagai simbol kebijaksanaan, kepemimpinan, keberanian, sekaligus keteguhan dalam mengemban amanah.
Baca Juga: Donasi Rp 901 Juta Warga Sragen Berwujud Tiga Balai Rakyat di Aceh Tamiang
“Melestarikan budaya harus berjalan beriringan dengan pembangunan. Daerah akan semakin kuat, apabila masyarakatnya tetap berpegang pada nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu,” imbuhnya.
Melalui jamasan tersebut, Pemkab Karanganyar menegaskan komitmennya dalam menjaga budaya adi luhung.
Sebuah kekayaan daerah yang tidak hanya memiliki nilai historis dan spiritual, tetapi juga edukatif serta menjadi perekat nilai-nilai persatuan.
Baca Juga: Diminta ke DPD, Tri Haryadi Mundur dari Bursa Ketua Partai Demokrat Karanganyar
Dengan semangat ‘Sesarengan Mbangun Karanganyar’, tradisi tersebut diharapkan terus lestari. Menjadi inspirasi bagi pembangunan daerah, yang berakar kuat pada nilai-nilai budaya bangsa. (rud/fer)
Editor : Adi Pras