Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Menanti Realisasi Wamentan Sudaryono, Peternak Ayam Petelur Karanganyar Rela Gadaikan BPKB demi Bertahan

Rudi Hartono RS • Kamis, 9 Juli 2026 | 19:14 WIB

 

Peternak ayam petelur di Jumantono, Karanganyar menyuplai telur ke pedagang pasar. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Peternak ayam petelur di Jumantono, Karanganyar menyuplai telur ke pedagang pasar. (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Sektor peternakan ayam petelur di Kabupaten Karanganyar tengah menghadapi ujian berat.

Ketidakseimbangan antara biaya pakan yang terus melejit dengan harga jual telur di pasaran membuat para peternak kelimpungan.

Bahkan, sejumlah peternak terpaksa mengambil langkah ekstrem dengan menjual aset hingga menggadaikan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB) demi menjaga kelangsungan usaha mereka.

​Sartono, salah satu pengusaha ayam petelur asal Kecamatan Jumantono, Karanganyar, mengungkapkan, harga telur di tingkat peternak memang sempat mengalami kenaikan tipis dalam beberapa hari terakhir.

Dari yang semula sempat terpuruk di angka Rp 18 ribu per kg, kini merangkak naik ke Rp 19 ribu per kg. Namun, angka tersebut dinilai masih jauh dari kata ideal untuk menutup biaya operasional.

Baca Juga: Festival Perumahan dan UMKM Dibuka, Jadi Pemantik Semarak HUT RI di Karanganyar

”Baru hari ini (harga) naik ke Rp 19 ribu per kg. Sebelumnya hanya Rp 18 ribu per kg. Meskipun naik, kondisi saat ini tetap tidak seimbang antara harga pakan dengan harga produksi,” ujar Sartono, Kamis (9/7/2026) sore.

​Sartono yang mengelola kandang berukuran 8 x 50 meter dengan kapasitas 10 ribu ekor ayam ini menjelaskan, dari segi produktivitas sebenarnya tidak ada masalah.

Dalam kondisi fit, produktivitas ayam petelurnya sangat baik dan mampu mencapai angka 95 persen.

Baca Juga: Solusi Kekeringan Jangka Panjang, Politisi Sragen Usul Satu RT Satu Sumur Dalam

Namun, tingginya harga pakan saat ini menyedot seluruh keuntungan, bahkan memicu kerugian operasional yang masif.

​Dampak dari situasi ini dinilai sangat luar biasa bagi keberlangsungan hajat hidup para peternak lokal.

Sartono membeberkan, demi mencukupi kebutuhan pakan ternak yang tidak bisa ditunda, banyak rekan sesama peternak yang harus memutar otak secara ekstrem.

”Dampaknya luar biasa. Banyak peternak yang terpaksa jual aset untuk beli pakan. Ada yang melakukan afkir dini (pengafkiran ayam lebih awal), dan ada juga yang sampai menggadaikan BPKB motor hingga mobil. Semua dilakukan hanya untuk menutup biaya pakan,” keluhnya.

Baca Juga: Kejari Karanganyar Ajukan Kasasi dalam Kasus Korupsi Aset Kades Jaten

​Kondisi pelik yang dialami Sartono dan peternak di Karanganyar ini sebenarnya menjadi pemantik gelombang protes di berbagai daerah.

Sebelumnya, sejumlah pengusaha petelur sempat menggelar aksi demo besar-besaran lantaran frustrasi melihat harga telur yang terus merosot tajam sementara biaya produksi tidak terkendali.

Merespons jeritan tersebut, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono sempat melayangkan komitmen tegas.

Kementerian Pertanian menyatakan bakal berkomitmen penuh menjaga stabilitas harga ayam dan telur agar peternak bisa mendapatkan keuntungan yang layak dan iklim usaha kembali sehat.

Baca Juga: Napak Tilas Sultan Hamengku Buwono X di Sragen: Menyusuri Jejak Perjuangan Pangeran Mangkubumi

Salah satu wacana yang bergulir dan sangat dinantikan realisasinya oleh peternak adalah penetapan harga standar ideal telur di tingkat peternak sebesar Rp 24.000 per kg. Kebijakan inilah yang kini ditagih oleh para pelaku usaha di akar rumput.

​Sartono menegaskan, harga Rp 24 ribu per kg di tingkat peternak menjadi harga mati agar mereka bisa kembali meraup untung.

Jika harga pasar terus dibiarkan mengambang di bawah Rp 22 ribu per kg, komitmen pemerintah hanya akan menjadi angin surga sementara peternak perlahan gulung tikar.

Baca Juga: Sempat Dikira Bunuh Diri, Pemuda asal Karanganyar Kabur dan Jualan Tahu Bulat di Jogja

”Harga Rp 24.000 itu harapan kami di tingkat peternak agar bisa berjalan. Kalau harga di bawah Rp 22.000, peternak pasti hancur. Kami sangat memegang janji tersebut dan berharap pemerintah berani mengambil sikap tegas untuk segera merealisasikannya," cetus Sartono. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
#kementerian pertanian #karanganyar #wamentan sudaryono #telur ayam #jumantono