Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Monumen Gerakan Sayang Ibu di Karanganyar, Ikon yang Sering Dilewati tapi Jarang Diketahui Sejarahnya

Annas Rohmanda Purbaningrum • Selasa, 14 Juli 2026 | 14:56 WIB
Monumen Gerakan Sayang Ibu di Karanganyar
Monumen Gerakan Sayang Ibu di Karanganyar

RADARSOLO.COM - Bagi warga Karanganyar, kawasan Alun-Alun tentu sudah menjadi tempat yang akrab. Mulai dari berolahraga, bersantai, hingga sekadar melintas di Jalan Lawu. Akan tetapi, pernahkah kamu memperhatikan sebuah monumen berbentuk pendopo dengan patung seorang ibu yang sedang menggendong anak di sisi timur kawasan alun-alun?

Banyak orang mengenalnya sebagai Monumen Gerakan Sayang Ibu. Sayangnya, tidak sedikit pula yang hanya menganggapnya sebagai penghias taman kota tanpa mengetahui cerita di balik pembangunannya.

Baca Juga: Kenapa Kita Mudah Mengingat Wajah, tetapi Sering Lupa Nama?

Monumen tersebut ternyata memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan program nasional di bidang kesehatan ibu dan anak. Monumen Gerakan Sayang Ibu diresmikan pada 22 Desember 1996, bertepatan dengan peringatan Hari Ibu. Prasasti peresmiannya ditandatangani oleh Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto. Gerakan Sayang Ibu (GSI) sendiri diluncurkan sebagai upaya mempercepat penurunan angka kematian ibu saat hamil dan melahirkan, sekaligus meningkatkan kualitas hidup ibu, anak, dan keluarga di Indonesia.

Secara fisik, monumen ini memiliki bentuk yang sederhana. Sebuah pendopo berdiri menaungi patung seorang ibu yang menggendong anak di atas batu besar. Sosok tersebut melambangkan kasih sayang, perlindungan, serta besarnya peran seorang ibu dalam membangun keluarga dan masyarakat.

Keberadaan monumen ini juga menjadi pengingat bahwa Karanganyar pernah memiliki peran penting dalam pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu. Bahkan, beberapa tahun setelah gerakan nasional tersebut diluncurkan, Kabupaten Karanganyar mulai mengembangkan program Kecamatan Sayang Ibu sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesehatan ibu dan bayi di berbagai wilayah.

Baca Juga: Siapa Juan Mera? namanya Dirumorkan Masuk Radar Perekrutan Persis Solo di Liga 2

Seiring berjalannya waktu, wajah kawasan Alun-Alun Karanganyar mengalami berbagai perubahan. Penataan ulang kawasan yang dilakukan pemerintah daerah pada 2014 menghadirkan plaza, jalur pedestrian, hingga ruang terbuka yang lebih nyaman bagi masyarakat. Meski demikian, Monumen Gerakan Sayang Ibu tetap dipertahankan sebagai salah satu ikon kawasan karena memiliki nilai sejarah tersendiri.

Kini, monumen tersebut lebih sering menjadi latar berfoto atau sekadar penanda lokasi bagi masyarakat yang melintas. Padahal, jika melihat sejarahnya, monumen ini menyimpan pesan yang jauh lebih dalam. Bukan sekadar patung seorang ibu menggendong anak, tetapi juga pengingat akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan ibu dan anak sebagai fondasi lahirnya generasi yang sehat.

Di tengah pesatnya perkembangan Karanganyar, Monumen Gerakan Sayang Ibu menjadi salah satu saksi perjalanan sejarah yang masih berdiri hingga sekarang. Keberadaannya mengingatkan bahwa sebuah ruang publik tidak hanya berfungsi mempercantik kota, tetapi juga menyimpan cerita dan nilai yang patut dikenalkan kepada generasi muda agar tidak terlupakan.

Editor : Kabun Triyatno
Monumen Gerakan Sayang Ibu karanganyar ikon Alun-Alun sejarah