Dorong Kebaya Jadi Busana Harian, Pemkab dan KKI Karanganyar Gelar Parade Budaya di CFD

Rudi Hartono RS • Dipublikasikan Minggu, 26 Juli 2026 | 13:50 WIB
 Anggota KKI menampilkan tari tradisional dalam perayaan Hari Kebaya Nasional di event CFD Karanganyar, Minggu (26/7) pagi. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)
Anggota KKI menampilkan tari tradisional dalam perayaan Hari Kebaya Nasional di event CFD Karanganyar, Minggu (26/7) pagi. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM- Ruang publik Alun-alun Karanganyar pada gelaran Car Free Day (CFD) Minggu pagi (26/7/2026) menjelma menjadi panggung busana akbar.

Ribuan warga dari berbagai penjuru Kabupaten Karanganyar memadati kawasan pusat kota dengan balutan ragam corak kebaya—mulai dari kebaya encim, kutubaru, hingga gaya kontemporer yang dipadu batik khas lokal.

Suasana semarak dan penuh warna tersebut menjadi puncak perayaan Peringatan Hari Kebaya Nasional 2026 tingkat Kabupaten Karanganyar. Mengangkat tema "Kenakan Kebaya, Lestarikan Budaya, Bangga Berkarakter Bangsa".

Baca Juga: Berkedok Perbaiki Atap Pabrik, Dua Pria Asal Solo Gasak Kabel Listrik PT Tantra Textile Industri Jaten

Event akbar ini diinisiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar menggandeng Komunitas Kebaya Indonesia (KKI) Karanganyar.

Agenda ini dikemas sebagai gerakan kebudayaan terstruktur yang bertujuan untuk memperkuat kembali akar identitas nasional sekaligus membentengi generasi muda dari arus disrupsi budaya asing.

Mewakili Bupati Karanganyar, Sekretaris Daerah (Sekda) Karanganyar Kurniadi Maulato menegaskan bahwa posisi kebaya dalam peradaban Nusantara sangat vital. 

Menurutnya, kebaya bukan sekadar lembaran kain atau pameran estetika semata, melainkan manifestasi dari keanggunan, kesopanan, serta watak luhur perempuan Indonesia.

"Kebaya merupakan simbol identitas yang mencerminkan keanggunan perempuan Indonesia. Mari kita berkomitmen bersama mendukung pelestarian kebaya agar tetap hidup dan menjadi warisan budaya bangsa yang terus dibanggakan," ujar Kurniadi Maulato di sela-sela kegiatan.

Kurniadi juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi lintas lini yang berkelanjutan untuk merawat warisan budaya.

Baca Juga: Demi Promosi ke Liga 1, Persis Solo Terapkan Revolusi di Posisi Penjaga Gawang

Pemkab Karanganyar memberikan apresiasi tinggi kepada KKI Karanganyar serta berbagai komunitas pegiat seni-budaya yang konsisten mengedukasi publik agar tidak asing dengan busana tradisinya sendiri.

Senada disampaikan Ketua KKI Karanganyar dr. Farida Rober Christanto.

Ia menyampaikan optimismenya terhadap gerakan pelestarian kebudayaan di Karanganyar.

Farida mendorong agar paradigma masyarakat terhadap kebaya mulai bergeser, sehingga tidak lagi dipandang sebatas busana seremonial yang hanya dikenakan saat hajatan atau momentum formal tertentu.

"Kebaya adalah kebanggaan nasional. Harapan kami, kebaya bisa perlahan beradaptasi menjadi bagian dari aktivitas harian masyarakat (daily wear). Ketika anak muda bangga mengenakan kebaya di ruang publik, di situlah kecintaan pada budaya terwujud secara nyata," urainya.

Baca Juga: Kekeringan Kian Meluas, BPBD Boyolali Distribusikan 279 Ribu Liter Air Bersih ke 5 Kecamatan

Antusiasme publik yang memadati area Alun-Alun membuktikan tingginya kecintaan masyarakat terhadap busana tradisi.

Pemkab Karanganyar meyakini bahwa kebangkitan kebudayaan lokal seperti ini akan berbanding lurus dengan tumbuhnya sektor ekonomi kreatif di daerah, khususnya bagi perajin batik, penjahit, hingga UMKM kriya lokal.

Melalui Peringatan Hari Kebaya Nasional 2026 ini, Kabupaten Karanganyar menegaskan komitmennya bahwa menyongsong masa depan modern dapat berjalan seiring tanpa harus kehilangan akar jati diri bangsa. (rud)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
Komunitas Kebaya Indonesia (KKI) Karanganyar Hari Kebaya Nasional budaya CFD Karanganyar