Warga Karanganyar Korban KMP Virgo Bertambah Tiga Orang, Ini Identitasnya

Rudi Hartono RS • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 19:09 WIB

 

Istiqomah Wiwin Fatmawati tunjukkan foto Ahda Dhiyaurohman di rumahnya di Jaten, Karanganyar, Kamis (17/9/2026). Ahda salah satu korban KMP Virgo Transport 8 yang karam. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Istiqomah Wiwin Fatmawati tunjukkan foto Ahda Dhiyaurohman di rumahnya di Jaten, Karanganyar, Kamis (17/9/2026). Ahda salah satu korban KMP Virgo Transport 8 yang karam. (Rudi Hartono/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Duka mendalam menyelimuti warga Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar. Tiga pemuda setempat masuk dalam manifes Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 yang karam di Selat Jawa, dalam perjalanan dari Surabaya menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Minggu (13/9/2026).

Mereka yakni Jevon Joechelin Jotham, 19; Aldo Nurahmansyah, 19; dan Ahda Dhiyaurohman, 18. Ketiganya nekad mengadu nasib ke Kalimantan, untuk bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit.

Suasana haru terlihat di kediaman orang tua Ahda Dhiyaurohman di kawasan perumahan Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Kamis sore (17/9/2026).

Baca Juga: Bangun Tidur, Warga Matesih Karanganyar Ditodong Benda Mirip Pistol: Dua HP Raib

Ayah Ahda, Nurul Bahri, 45, dan istri Istiqomah Wiwin Fatmawati, 46, sempat menceritakan nasib yang dialami buah hatinya.

Keberangkatan Ahda dkk berawal dari tawaran kerja di PT Karya Luhur Jati di Kalimantan. Mereka mengawali perjalanan dari titik kumpul di Semarang, sebelum akhirnya berangkat naik kapal laut via Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Istiqomah mengaku sempat berat hati melepas kepergian Ahda. Ia dan suaminya sejatinya ingin Ahda fokus menyelesaikan pendidikannya di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Karanganyar.

Baca Juga: Krisis Air di Utara Bengawan Solo, Aksi Kolaborasi SMAN 2 Sragen Pasang Tandon dan Pasok 17 Tangki Air

Ini setara SMA atau Kejar Paket C, setelah sebelumnya Ahda sempat menimba ilmu di pondok pesantren (ponpes).

“Kami ingin Ahda studi dulu. Masih banyak yang harus dipelajari. Tapi dia ngeyel mau mandiri. Tidak mau merepotkan orang tua. Kepingin kerja dan punya uang sendiri,” ujar Istiqomah.

Demi memenuhi persyaratan agen penyalur, Ahda dkk sempat merelakan rambut mereka dipotong pendek setiba di Semarang.

Komunikasi terakhir keluarga dengan Ahda, terjadi pada Sabtu pagi (12/9/2026) jelang keberangkatan kapal.

“Saat itu Ahda sempat mengirimkan video pendek saat hendak masuk pelabuhan. Dia cuma bilang 'selamat tinggal Jawa' sambil bercanda. Itu video dan komunikasi terakhir,” sambung Nurul Bahri.

Baca Juga: Batal Bubar, Kangen Band Dipastikan Tampil di Sragen Akhir Tahun Ini

Kecurigaan keluarga muncul pada Minggu pagi, saat pesan singkat dari Nurul gagal terkirim. Hingga akhirnya mendengar kabar kapal yang ditumpangi Ahda karam.

Nurul sempat menghubungi Basarnas Banjarmasin, Basarnas Jatim, Polda Jatim, hingga Polres Karanganyar. Hingga didapat informasi nama Ahda masuk manifes KMP Virgo, serta berada dalam daftar korban yang belum ditemukan.

“Bagaimanapun keadaannya, selamat atau mungkin takdir berkata lain, kami berusaha ikhlas. Harapan kami, Ahda dan teman-temannya ditemukan dalam kondisi selamat. Bisa kumpul kembali dengan keluarga,” beber Nurul. (rud/fer)

Editor : Adi Pras
KMP Virgo Transport 8 perkebunan sawit karanganyar jaten kalimantan