RADARSOLO.COM – Wajah sektor pertanian di Kabupaten Karanganyar masih dibayangi minimnya minat generasi muda.
Hingga kini, porsi petani milenial di Bumi Intanpari baru menyentuh angka 12 persen. Terlampau jauh dibanding target ideal nasional yang dipatok 40 persen.
Stigma bahwa bertani identik dengan kerja kasar, disinyalir jadi biang kerok anak muda ogah ke sawah.
Baca Juga: Karanganyar di Ring Satu Bahaya Bencana, BMKG dan BPBD Pasang Kuda-Kuda
Menjawab tantangan tersebut, DPW Tani Merdeka Jateng gerak cepat meluruskan mindset keliru tersebut.
Edukasi dan pengenalan mekanisasi pertanian terus digenjot, agar anak muda, khususnya gen Z melihat prospek cerah di sektor pangan.
Ketua DPW Tani Merdeka Jateng Wawan Pramono menegaskan, digitalisasi dan modernisasi alat pertanian merupakan harga mati. Tidak bisa ditawar lagi.
Baca Juga: Sragen Bakal Terima 171 Becak Listrik, Wabup Suroto: Kasihan Tukang Becak Sepuh yang Masih Sewa
“Harus segera upgrade untuk digitalisasi dan modernisasi alat. Petani harus mulai jadi pengusaha di bidang pertanian. Kemudian ekosistem hulu ke hilir harus terbangun utuh, mulai dari menanam, produksi, sampai paham pasar dan penjualan,” ujar Wawan di sela perayaan Hari Tani di Umbul Situmpeng, Desa Gentungan, Mojogedang, Kamis (24/9/2026) malam.
Sebagai magnet pemikat generasi muda, Tani Merdeka meluncurkan program berorientasi ekspor. Komoditas rempah-rempah asli Karanganyar kini tembus pasar Tiongkok.
Di sisi lain, persoalan klasik irigasi dan pasokan air sumur dalam saat musim kemarau, masih mengintai petani.
Baca Juga: DPRD Sragen Temukan Indikasi Pemborosan Anggaran untuk ATK, Makan Minum hingga Banner
Mengingat keterbatasan APBD Karanganyar, Tani Merdeka pasang badan mengawal pengajuan bantuan program irigasi dan P3A, langsung ke Kementerian Pertanian (Kementan). (rud/fer)
Editor : Adi Pras