Dinkes Karanganyar Kebut Tracing TBC di 85 Desa, Ditarget Rampung November 2026

Rudi Hartono RS • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 18:25 WIB

 

Dinkes Karanganyar gelar rakor penanganan TBC. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Dinkes Karanganyar gelar rakor penanganan TBC. (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Penelusuran kasus tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Karanganyar terus digeber. Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar menyisir warga di 85 desa melalui program Active Case Finding (ACF). Hingga kini, sekitar 53 desa telah dijangkau.

Kepala Dinkes Karanganyar Dwi Rusharyati mengatakan, penyisiran dilakukan untuk menemukan kasus TBC sedini mungkin.

Sasaran utama pemeriksaan adalah warga yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC, termasuk mereka yang tinggal serumah dengan penderita.

Baca Juga: Unik, Manusia Purba Sangiran Ikut Meriahkan Hari Batik di Sragen

”Target kami, seluruh rangkaian pemeriksaan di 85 desa ini selesai pada November untuk mendeteksi seawal mungkin penyebaran TBC di Kabupaten Karanganyar,” kata Dwi, Minggu (4/10/2026).

Menurut dia, penemuan kasus secara aktif menjadi salah satu upaya untuk memutus rantai penularan. Sebab, penderita TBC yang belum terdeteksi berpotensi menjadi sumber penularan di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

Dwi menyebut, desa yang belum masuk dalam gelombang ACF tahun ini tidak berarti luput dari pengawasan. Pelacakan akan dilanjutkan pada tahun depan secara bertahap.

Baca Juga: Resahkan Warga Kebakkramat, 127 Sepeda Motor Diangkut Satlantas Karanganyar

Selain memperluas cakupan deteksi, dinkes memastikan persoalan biaya tidak boleh menjadi penghalang pasien untuk menjalani pengobatan.

Warga yang terdeteksi dan kemudian terkonfirmasi menderita TBC mendapat pengobatan secara gratis dari pemerintah hingga dinyatakan sembuh.

”Pengobatan pasien TBC diberikan secara gratis sampai sembuh,” tegasnya.

Langkah tersebut menjadi penting mengingat TBC masih menjadi salah satu penyakit yang harus diwaspadai di Karanganyar. Sepanjang 2025, tercatat 48 warga meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

Dwi menjelaskan, kasus kematian itu tidak semata-mata dipengaruhi infeksi TBC. Sejumlah pasien memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Faktor usia lanjut juga turut meningkatkan risiko.

Baca Juga: Aksi Koboi Jalanan di Sragen: Tembak Paha Lawan Pakai Airsoft Gun Berujung Babak Belur Dikeroyok

Selain itu, ketidakpatuhan pasien dalam mengonsumsi obat secara rutin menjadi salah satu persoalan dalam penanganan TBC.

Karena itu, selain menemukan kasus lebih awal, kepatuhan menjalani pengobatan menjadi perhatian. Pasien harus mengikuti terapi sesuai ketentuan dan tidak menghentikan obat secara sepihak meskipun kondisi tubuh mulai membaik.

Di sisi lain, upaya penanganan TBC di Karanganyar menunjukkan hasil positif. Tingkat keberhasilan pengobatan tahun ini telah mencapai 88 persen.

”Untuk tingkat keberhasilan pengobatan tahun ini, kita sudah berhasil mencapai 88 persen,” ujar Dwi. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
tuberkulosis karanganyar TBC dinkes karanganyar komorbid