RADARSOLO.COM – Tak sekadar kertas tua. Di balik lembaran naskah kuno tersimpan jejak pengetahuan, tata kehidupan, hingga kebudayaan Jawa masa lalu.
Namun, usia menjadi ancaman tersendiri. Sebelum kerusakan fisik semakin parah, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Karanganyar mempercepat identifikasi dan digitalisasi naskah kuno milik masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan melalui program Identifikasi, Pendaftaran, dan Digitalisasi Naskah Kuno Nusantara.
Selain mendata keberadaan manuskrip, disarpus mengalihmediakan isi naskah ke format digital agar informasi di dalamnya tetap lestari dan bisa diakses generasi mendatang.
Baca Juga: DPRD Karanganyar Sahkan Enam Perda Baru, Ini Rinciannya
Pustakawan Disarpus Karanganyar Priyanto mengatakan, digitalisasi menjadi bagian penting dalam penyelamatan warisan budaya tertulis.
Terlebih, tidak semua naskah kuno tersimpan di lembaga resmi. Sebagian masih menjadi koleksi keluarga atau masyarakat.
”Tujuan utama kegiatan ini adalah melestarikan warisan budaya tertulis, mendata keberadaannya secara sistematis, serta agar ilmu dan pengetahuan di dalam manuskrip kuno ini tidak hilang tergerus zaman dan tetap bisa diakses publik secara digital,” ujar Priyanto, Rabu (14/10/2026).
Salah satu koleksi yang kini masuk proses digitalisasi adalah naskah milik Sita di wilayah Ngaglik/Ngaum. Naskah tersebut cukup tebal sehingga proses alih media tidak bisa dilakukan sekaligus.
Baca Juga: Sempat Diwarnai Ketegangan, Kasus Dugaan Penganiayaan Siswa SDN di Sragen Berakhir Damai
”Prosesnya kami lakukan secara bertahap. Naskah koleksi Ibu Sita ini terbilang cukup tebal,” jelasnya.
Dari hasil identifikasi dan pendataan, terdapat sejumlah manuskrip yang memiliki kandungan pengetahuan cukup beragam. Salah satunya bendhel naskah atau kumpulan serat Jawa.
Naskah tersebut terdiri atas 200 halaman kertas folio bergaris dengan sampul karton. Ukurannya sekitar 31,6 x 20,9 sentimeter. Ditulis menggunakan aksara dan bahasa Jawa, bendhel itu menghimpun sejumlah serat.
Di antaranya Serat Waduaji yang mengulas nama, pangkat, dan tugas abdi dalem. Kemudian Serat Tatakrami Kadhaton yang memuat tata bahasa di lingkungan keraton.
Baca Juga: Ditolak Warga, PUDAM Tirta Lawu Karanganyar Batal Bangun Saluran Baru di Tawangmangu
Ada pula Serat Nitimani yang berisi ajaran Kamasutra Jawa serta Serat Widyakirana yang membahas kosmogoni Jawa.
Koleksi lain yang turut didata adalah naskah primbon milik Suroso Wiryo Sudarso III dengan kode ATH/03/KRA.
Naskah berukuran 21,4 x 16 sentimeter itu ditulis di atas kertas folio bergaris dengan kombinasi aksara Latin, Jawa, dan Arab.
Isinya pun beragam. Mulai macam-macam rajah, seperti Rajah Pembentengan Diri, Rajah Anti Maling, Rajah Poncosona hingga Rajah Kalacakra.
Naskah tersebut juga memuat wirid ngilmu kasampurna'an, primbon rupa-rupa, serta kidungan.
Baca Juga: KUA-PPAS Sragen 2027 Diproyeksikan Defisit Rp 134,99 Miliar
Priyanto menyebut kondisi fisik naskah yang berhasil diidentifikasi secara umum masih cukup terawat. Kendati demikian, sejumlah bagian mulai menunjukkan korosi tinta tingkat ringan.
Kerusakan semacam itu menjadi alarm bagi upaya pelestarian. Sebab, ketika kondisi fisik naskah semakin menurun, informasi yang terkandung di dalamnya juga berisiko ikut hilang.
Karena itu, digitalisasi dipandang bukan sekadar memindahkan dokumen dari kertas ke bentuk digital.
Lebih dari itu, menjadi cara untuk mengamankan pengetahuan yang terkandung dalam manuskrip agar tetap dapat dipelajari.
”Yang kami selamatkan bukan hanya fisik naskahnya, tetapi juga ilmu dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Dengan digitalisasi, informasi tersebut tetap bisa dimanfaatkan meskipun suatu saat kondisi fisik naskah mengalami kerusakan,” tandas Priyanto.
Baca Juga: Tolak Pengembangan Saluran Baru PUDAM Tirta Lawu Karanganyar, Ratusan Warga Geruduk Kantor Kecamatan
Disarpus Karanganyar pun terus mendorong masyarakat yang masih menyimpan naskah kuno untuk ikut mendata dan melestarikannya.
Sebab, manuskrip yang tersimpan di rumah-rumah warga bukan sekadar peninggalan keluarga.
Bisa jadi, di dalamnya tersimpan potongan penting sejarah dan pengetahuan lokal yang belum banyak diketahui. (rud/adi)
Editor : Adi Pras