Api Padam, Operasi Pemadaman Karhutla Lawu di Karanganyar Ditutup

Rudi Hartono RS • Dipublikasikan Jumat, 30 Oktober 2026 | 17:14 WIB

 

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karanganyar Sugiharjo saat melakukan penutupan operasi karhutla Gunung lawu, Jumat (30/10/2026) siang. (Rudi Hartono/Radar Solo)
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karanganyar Sugiharjo saat melakukan penutupan operasi karhutla Gunung lawu, Jumat (30/10/2026) siang. (Rudi Hartono/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu Karanganyar akhirnya dinyatakan padam.

Setelah tiga hari pemantauan, kondisi di sejumlah titik dinilai kondusif. Operasi penanganan darurat pun resmi diakhiri, Jumat (30/10/2026).

Meski demikian, kabar tersebut belum diikuti pembukaan jalur pendakian. Pemerintah masih melakukan evaluasi untuk memastikan kondisi kawasan benar-benar aman bagi pendaki.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karanganyar Sugiharjo mengatakan, hasil pemantauan di sejumlah pos selama tiga hari terakhir menunjukkan tidak ada lagi titik api. Pemantauan dilakukan di Pos Induk, Candi, Cemoro Kandang, Tambak, hingga Ceto.

Baca Juga: KPU Karanganyar Tuntaskan Milkoi 2026, Siapkan Pemilih Pemula Menuju Pemilu 2029

”Hasil pemantauan selama tiga hari terakhir kondisinya sudah kondusif, aman, dan api sudah padam,” kata Sugiharjo.

Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, BPBD bersama bupati Karanganyar, sekda, serta instansi terkait sepakat mengakhiri penanganan dalam status tanggap darurat karhutla Gunung Lawu.

Posko Induk dan sejumlah posko pendakian, yakni Cemoro Kandang, Tambak, dan Ceto, juga ditutup.

Dokumen pencabutan status tanggap darurat telah disiapkan dan tinggal menunggu pengumuman resmi dari bupati.

Baca Juga: Kebut Proyek Infrastruktur, Bupati Sragen Sidak ke Lapangan

Namun, pendaki diminta masih bersabar. Sebab, seluruh jalur pendakian Gunung Lawu masih ditutup sementara.

”Evaluasi jalur menjadi penting karena kebakaran menyisakan potensi bahaya baru. Salah satu yang mendapat perhatian adalah jalur dari Pos 2 Cemoro Kandang menuju Pos 3,” ungkapnya.

Di jalur tersebut terdapat tebing di sisi kanan dan jurang di sebelah kiri. Kondisi pascakebakaran dikhawatirkan memicu longsoran tanah, batu, maupun pohon yang terdampak kebakaran.

Sementara jalur melalui Ceto dan Candi Lawu disebut tidak mengalami dampak separah kawasan lainnya.

Pemerintah akan menentukan langkah pembukaan jalur setelah memperoleh pembaruan citra satelit Oktober.

Baca Juga: Terjerat dan Terbentur Mesin Benang, Pekerja Pabrik di Karanganyar Meninggal

Data tersebut dibutuhkan untuk memastikan luasan kawasan terdampak sekaligus menjadi bahan evaluasi sebelum jalur kembali dibuka.

Asisten Perhutani (Asper) Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Utara Hisyam Zulfikar mengungkapkan, setelah operasi darurat berakhir, penanganan Gunung Lawu bergeser ke tahap pemulihan. Reboisasi menjadi salah satu agenda utama.

Perhutani bersama pemerintah, tidak hanya mengejar penghijauan, tetapi juga mempertimbangkan jenis tanaman yang sesuai dengan karakter ekosistem Gunung Lawu.

”Sejumlah tanaman seperti ficus, puspa, dan kayu pasang diupayakan untuk ditanam kembali,” imbuhnya.

Kendati demikian, pengadaan bibit tanaman endemik tersebut menjadi tantangan. Ketersediaannya tidak sebanyak bibit tanaman komersial seperti damar atau eukaliptus.

Baca Juga: Tak Hanya PKL, Parkir Bikin Jalan Veteran Sragen Makin Semrawut

Tahap pemulihan selanjutnya akan dikoordinasikan dengan instansi kehutanan dan kelembagaan terkait, termasuk KPH. Sebab, BPBD akan kembali fokus pada tugas utamanya dalam penanganan kedaruratan bencana.

Selain reboisasi, mitigasi bencana lanjutan juga disiapkan. Pemerintah bersama pihak terkait dan pemerintah desa akan mengupayakan pembuatan maupun pembenahan saluran air.

”Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi potensi persoalan baru, terutama aliran air di kawasan yang sebelumnya terdampak kebakaran,” tandasnya.

Dengan padamnya api, pekerjaan di Gunung Lawu belum sepenuhnya selesai. Tantangan berikutnya adalah memastikan kawasan tersebut pulih dan aman sebelum kembali dibuka untuk aktivitas pendakian. (rud/adi)

Editor : Adi Pras
karhutla gunung lawu BPBD Karanganyar gunung lawu karanganyar perhutani