RADARSOLO.COM – Cedera saat olahraga kerap terjadi bukan karena intensitas gerak, melainkan kelalaian dalam persiapan. Salah satunya karena tidak tepat dalam melakukan pemanasan.
Hal itu seperti dikatakan Dr. dr. Tangkas SMHS Sibarani, dokter ortopedi konsultan olahraga dari RS Panti Waluyo Surakarta. Dia menegaskan pentingnya pemanasan sebelum berolahraga untuk mencegah cedera.
“Banyak yang cedera bahkan saat pemanasan. Artinya, pemanasan yang dilakukan tidak tepat. Datang ke lapangan hanya sekadar menggerakkan tubuh sebentar lalu langsung bermain, itu bukan pemanasan yang benar,” jelas dr. Tangkas saat launching klinik Orthopedi di RS Panti Waluyo, Rabu (14/5).
Menurut dr. Tangkas, pemanasan tidak sekadar formalitas. Melainkan proses penting untuk mempersiapkan otot, tendon, dan sendi sebelum menerima beban aktivitas fisik yang lebih berat.
Pemanasan yang baik membantu tubuh menjadi lentur dan mengurangi risiko cedera seperti otot tertarik, ligamen sobek, hingga patah tulang. Idealnya, pemanasan dilakukan minimal 15—60 menit, tergantung intensitas dan jenis olahraga yang akan dilakukan.
“Pemanasan bertujuan membuat seluruh struktur tubuh siap menerima beban latihan. Otot jadi lemas, tendon lentur, dan sendi tidak kaku. Kalau langsung olahraga tanpa ini, risiko cedera ya sangat besar,” lanjutnya.
Dokter Tangkas juga menyoroti pentingnya pendinginan setelah olahraga, serta menyesuaikan intensitas latihan dengan kondisi fisik masing-masing individu.
Dia menyayangkan masih banyak masyarakat yang berolahraga hanya bermodal semangat, tanpa mempertimbangkan kesiapan tubuh.
“Overtraining juga bahaya. Banyak anak muda yang lari setiap hari, pagi-sore tanpa takaran, akhirnya justru mengalami stres fraktur atau patah tulang akibat tekanan berulang,” ujarnya.
Lebih lanjut, dr Tangkas mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan cedera, sekecil apa pun. Penanganan yang tidak tepat seperti memijat atau mengurut tanpa diagnosis bisa memperparah kondisi.
“Kalau sudah cedera, sebaiknya langsung ke dokter. Jangan ke tukang urut atau langsung fisioterapi tanpa pemeriksaan. Karena, yang menentukan diagnosis ya dokter, bukan yang lain,” tegasnya.
Ia juga mengimbau agar para orang tua bijak saat melibatkan anak dalam kegiatan olahraga. Beberapa anak memiliki kelenturan sendi yang berlebihan (generalized hyperlaxity) dan tidak cocok dengan olahraga tertentu, sehingga perlu evaluasi medis terlebih dahulu.
“Olahraga itu baik, tapi harus dilakukan dengan cara yang benar. Mulai dari pemanasan, latihan yang sesuai kapasitas, sampai pendinginan. Jangan tunggu cedera baru mencari penanganan,” pungkasnya. (ul/nik)
.
Editor : Niko auglandy