RADARSOLO.COM - Belakangan, pembahasan mengenai shampo non SLS (sodium lauryl sulfat) cukup ramai. Apalagi setelah sebelumnya dr Tirta juga menyebut perawatan rambutnya dengan menggunakan shampo non SLS.
Dalam sebuah kontennya, dr Tirta menyebut jika kini dirinya menggunakan shampo non SLS setelah rambutnya rusak karena menggunakan cat rambut berlebihan.
"Kemarin ada netizen bertanya ke saya, 'itu rambut lu bisa tebal, itu tanam rambut tidak?' Wey, bos Ini cuma saya rawat sendiri. Bukan tanam rambut. Seperti kalian tahu, rambut saya dulu tuh pink kayak gini nih, akhirnya rusak," tutur dr Tirta di akun TikTok-nya.
Kerusakan rambut itu menimbulkan kerontokan yang sangat masif serta kerusakan kulit kepala. Sehingga kulit kepala menjadi sensitif
"Dan akhirnya, saya memakai sampo non SLS," ucap dr Tirta.
Pembahasan shampo non SLS ini juga ramai di medsos.
Akun X bernama @am******** menuliskan
Sejumlah netizen menuliskan pengalaman mereka setelah mencuci rambut atau keramas menggunakan salah satu produk shampo non SLS.
"SETUJU BANGET.... udah make ***** dari tahun 2023 tonicnya & shamponya baru tahun lalu. 22nya bagus banget, apalagi shamponya dipakai tiap hari ga bikin rambut kering, malah lembut," tulis akun X @am*********.
Lantas apa itu shampo non SLS?
Untuk mengetahui shampo non SLS, maka bisa dengan memahami dulu apa itu SLS.
Istilah Sodium Lauryl Sulfate atau singkatan populernya SLS banyak tercantum dalam daftar komposisi berbagai produk yang biasa gunakan sehari-hari.
Mulai dari produk kecantikan, pasta gigi, hingga berbagai jenis pembersih.
Secara sederhana, SLS adalah sejenis surfaktan (zat aktif permukaan).
Salah satu peran utama surfaktan seperti SLS dalam sebuah produk adalah kemampuannya untuk membantu menciptakan busa yang melimpah.
Inilah alasan utama mengapa SLS menjadi bahan favorit dalam industri pembuatan sabun mandi, shampo, pembersih wajah, pasta gigi, dan produk pembersih lainnya.
Efek busa yang dihasilkan oleh SLS seringkali memberikan sensasi bersih dan menyegarkan bagi banyak penggunanya.
Meskipun sangat umum digunakan dan efektif sebagai agen pembuat busa, ada beberapa catatan penting mengenai penggunaan Sodium Lauryl Sulfate.
Terutama jika digunakan secara sering atau pada individu dengan kulit yang lebih sensitif.
Salah satu perhatian utama terkait SLS adalah potensinya untuk menyebabkan iritasi.
Dalam konteks produk perawatan rambut, misalnya, penggunaan shampo yang mengandung SLS secara berlebihan atau terlalu sering dapat mengiritasi kulit kepala.
Kondisi ini pada beberapa kasus bahkan dapat berkontribusi pada munculnya masalah ketombe.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Contact Dermatitis oleh para peneliti di Jerman menguji dampak SLS pada 1.600 pasien.
Hasilnya menunjukkan bahwa 42% dari pasien yang diuji mengalami reaksi iritasi pada kulit setelah terpapar SLS.
Dengan mengetahui apa itu SLS, fungsinya sebagai penghasil busa dan potensi efek sampingnya, maka sebagai konsumen bisa membuat pilihan yang lebih bijak.
Jika memang punya riwayat kulit sensitif, kulit kepala yang mudah iritasi, atau ingin mencoba pendekatan yang lebih lembut, kini semakin banyak produk alternatif di pasaran, seperti sampo bebas sulfat alias shampo non SLS.
"Karena kulit saya sensitif, saya memilih shampo non SLS. Efeknya adalah pembersihannya tidak akan sekencang dari SLS. Busanya dikit dan dia lebih ramah bagi kulit kepala yang sensitif," tutur dr Tirta.
"Jadi ini pekara choice. Kalau kulit kepala kalian memang sangat sensitif, rambut kalian juga mengalami kerusakan dan kerontokan, bisa pakai shampo non SLS," tandasnya. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria