Subvarian BA.2.75 menjadi perhatian khusus. Sebab setiap mutasi berpotensi memungkinkan virus menghindari antibodi.
Sehingga bisa saja virus itu kemampuan untuk menginfeksi orang yang telah terinfeksi sebelumnya, serta mereka yang divaksinasi.
Sampai saat ini, India telah mencatat setidaknya 46 kasus BA.2.75, sesuai dengan database sumber terbuka Global Initiative on Sharing All Influenza Data.
Namun, varian itu belum tercatat resmi pada Konsorsium Genomics SARS-CoV-2 (INSACOG), badan pengawasan genom yang berfungsi di bawah kementerian kesehatan.
“Kami melihat bagaimana subvarian BA.2 memicu gelombang ketiga pada bulan Januari, masih menyebabkan penularan dan infeksi ulang pada bulan Juni. Itu mengarah pada penemuan BA.2.75, yang memiliki lebih dari 80 mutasi, sementara BA.2 memiliki sekitar 60,” kata seorang ilmuwan INSACOG mengatakan kepada Times of India.
“Kini kami menemukan BA.2.74, BA.75 dan BA.2.76,” tambahnya seperti dilansir dari First Post, Senin (4/7).
Selain BA.2.75, India juga telah mendeteksi sekitar 298 kasus BA.2.76 di India, diikuti oleh 216 kasus BA.2.74.
Selain India, strain juga telah dilaporkan oleh tujuh negara lain Jepang, Jerman, Inggris, Kanada, Amerika Serikat, Australia, dan New Selandia, sesuai data yang disediakan oleh Nextstrain.
Apa itu BA.2.75?
Seorang ilmuwan genomik India telah menjelaskan bahwa varian BA.2.75 mencakup mutasi baru pada protein lonjakan, selain mutasi yang sudah ada pada varian Omicron. Dikhawatirkan subvarian ini memberikan varian kemampuan untuk menghindari beberapa antibodi. Ini memungkinkan varian untuk menginfeksi orang yang telah divaksinasi, atau telah terinfeksi sebelumnya.
“Ini berarti bahwa BA.2.75 bisa memengaruhi antibodi yang serupa dengan BA.4 atau BA.5 sehubungan dengan vaksin saat ini,” katanya.
Hingga saat ini varian generasi kedua ini baru ditemukan pada beberapa kasus dalam satu wilayah. Ini adalah pertama kalinya varian generasi kedua dari Omicron menyebar ke berbagai wilayah. Editor : Perdana Bayu Saputra