—
CAMPAK, rubela, dan difteri termasuk penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi. Berdasar kajian epidemiologis dan penilaian risiko penyakit campak dan rubela, sebagian besar provinsi di Indonesia berada dalam risiko sedang, tinggi, dan sangat tinggi untuk terjadinya kejadian luar biasa. Hal itu disebabkan dua tahun cakupan imunisasi campak-rubela tidak mencapai target.
Capaian pada 2020 sebesar 65,3 persen dari target 76,4 persen. Dan, pada 2021 (berdasar data laporan rutin sampai dengan 1 April 2022) hanya mencapai 58,5 persen dari target 81 persen. ”Jadi, pada prinsipnya program BIAN merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk mencapai eliminasi campak dan rubela di 2023,” ungkap dr Areta Idarto SpA kepada Jawa Pos kemarin (20/8).
Karena itu, imunisasi tambahan campak-rubela tidak memandang status imunisasi sebelumnya. Tujuannya, mendapatkan capaian seluas-luasnya. Dengan begitu, herd immunity di masyarakat dapat terbentuk.
Penyakit campak sangat menular dan dapat menimbulkan komplikasi yang berat pada anak. ”Daya tularnya sangat tinggi. Satu orang yang terinfeksi campak dapat menginfeksi 12–18 orang lainnya dalam populasi yang rentan,” jelasnya.
Umumnya, anak di bawah 5 tahun dan orang dewasa di atas 30 tahun berisiko mengalami komplikasi serius. Apalagi anak yang tidak mendapatkan imunisasi, status gizi tidak baik, kekurangan vitamin A, dan daya tahan tubuh lemah akibat infeksi lain. Pada ibu hamil, campak dapat mengakibatkan bayi mengalami kelainan bawaan saat lahir.
’’Komplikasi yang terjadi bisa berakibat fatal. Misalnya, infeksi otak (ensefalitis), infeksi paru (pneumonia), diare, hingga dehidrasi berat, dan infeksi telinga,” lanjut dr Areta.
Campak ditandai dengan gejala awal demam tinggi, pilek, batuk, mata kemerahan dan berair, serta bercak putih di area dalam pipi. Selang beberapa hari akan timbul ruam kemerahan di area wajah dan leher atas. Tiga hari berikutnya, ruam akan menyebar ke tangan, kaki, dan seluruh tubuh. Ruam tersebut tidak gatal dan akan menghilang dalam 5–6 hari.
”Tidak ada penanganan spesifik kecuali anak mengalami infeksi lain secara bersamaan atau komplikasi. Yang terpenting, menjaga asupan cairan dan nutrisi yang baik, memberikan suplementasi vitamin A, dan menerapkan protokol kesehatan agar tidak menularkan ke sekitar,” tutur dokter spesialis anak sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra itu.
Penyakit akibat virus dari famili Paramyxoviridae itu dapat menular melalui percikan ludah. Baik dari batuk atau bersin maupun kontak langsung dengan cairan hidung atau tenggorokan orang yang terjangkit. Dokter Areta menyebut virus tetap aktif dan menular di udara atau permukaan hingga kurang lebih dua jam.
Satu-satunya upaya terbaik untuk terhindar dari penyakit campak adalah dengan imunisasi. Perlindungan yang diberikan memang tidak bisa 100 persen. ”Imunisasi dapat menciptakan kekebalan pada tubuh anak sehingga akan menurunkan risiko sakit campak dan risiko terjadinya komplikasi serius akibat campak,” imbuhnya.
Orang tua tidak perlu khawatir dengan efek yang ditimbulkan setelah vaksin. Respons tubuh tiap anak tidaklah sama. Begitu pula imunisasi ganda apabila ada beberapa imunisasi yang belum dilakukan.
”Dari IDAI mengatakan imunisasi ganda tidak menambah reaksi KIPI (kejadian ikutan pascaimunisasi) pada seorang anak. Jadi, imunisasi ganda aman untuk diberikan. Bapak, ibu tidak perlu khawatir,” tambah dr Lianto Kurniawan Nyoto SpA dalam talk show yang diadakan Siloam Hospitals Surabaya.
Program BIAN dilakukan dalam dua tahap. Ada dua program. Yakni, imunisasi MR atau imunisasi tambahan campak-rubela dan imunisasi kejar (OPV, IPV, DPT-HB-Hib). Tahap kedua sedang berlangsung Agustus ini.
MITOS ATAU FAKTA?
– ANAK YANG SUDAH IMUNISASI MR MASIH BISA TERTULAR CAMPAK –> FAKTA
Imunisasi tidak 100% menghindarkan dari terserang suatu penyakit. Namun, dapat menghindarkan dari komplikasi dan gejalanya jadi lebih ringan.
– PENYAKIT CAMPAK HANYA MENYERANG ANAK-ANAK –> MITOS
FAKTA: Orang dewasa juga bisa terkena campak. Orang yang tidak divaksin berisiko lebih tinggi tertular penyakit.
– ADA CARA ALAMI UNTUK MENCEGAH CAMPAK –> MITOS
FAKTA: Vaksinasi adalah cara paling efektif untuk mencegah campak.
– ORANG YANG TERKENA CAMPAK TIDAK BOLEH MANDI –> MITOS
FAKTA: Tetap harus mandi rutin untuk menjaga kesehatan kulit. Sebaiknya dilakukan dengan cara membasuh badan dan tidak menggosok terlalu kencang.
– CAMPAK BISA MENGAKIBATKAN KEMATIAN –> FAKTA
Meski bisa disembuhkan, pada beberapa kasus, campak dapat mengakibatkan komplikasi serius hingga berujung kematian.
TIPS PENCEGAHAN!
• Imunisasi rutin (campak dan imunisasi dasar maupun lanjutan)
• Isolasi anak yang terinfeksi sehingga tidak menulari anak/orang di sekitar
• Cuci tangan pakai sabun dan air mengalir
• Menerapkan etiket batuk (pada anak yang sudah cukup besar)
• Memakai masker Editor : Perdana Bayu Saputra