Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pertama di Surabaya, Mayapada Hadirkan Tindakan Ablasi Minim Risiko

Perdana Bayu Saputra • Senin, 19 September 2022 | 21:55 WIB
Ilustrasi Penyakit Jantung (Pixabay)
Ilustrasi Penyakit Jantung (Pixabay)
JawaPos.com – Aritmia merupakan salah satu gangguan atau penyakit jantung yang ditandai oleh detak jantung tidak teratur. Aritmia terjadi saat sinyal impuls listrik yang mengkoordinasikan detak jantung tak bekerja dengan baik.

Detak jantung yang tidak teratur akan terasa seperti jantung yang berdebar kencang. Aritmia terdiri dari beberapa kategori, antara lain detak jantung lambat (bradikardia), detak jantung cepat (takikardia), detak jantung tidak teratur (fibrilasi), dan detak jantung dini.

Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia dan Intervensi dari Mayapada Hospital Surabaya dr. Rerdin Julario, SpJP (K) mengatakan, sejumlah faktor menjadi penyebab panyakit ini muncul.

“Yang paling sering adalah kelainan jantung koroner. Selain itu ada penyebab lain, ganguan metabolisme, elektrolit, kemudian kelainan genetik atau bawaan, itu sering memunculkan gejala aritmia,” kata dr. Rerdin, Senin.

Menurut dia, aritmia fibrilasi atau detak jantung tidak teratur paling kompleks ditangani. Sebab, penanganan aritmia jenis ini harus menggunakan alat yang sudah tiga dimensi. Saat ini, alat tersebut baru ada di beberapa rumah sakit.

“Kalau aritmia fibrilasi penanganannya harus 3 dimensi. Karena tingkat keakuratannya lebih tinggi, detail kelainan aritma akan terlihat lebih baik” ujar dia.

Gangguan aritmia, kata dia, memang cukup beragam namun masih banyak masyarakat yang menyepelekan hal ini. Padahal masyarakat bisa melakukan deteksi dini secara mandiri untuk menentukan adanya gejala penyakit tersebut.

“Jadi caranya cukup simpel, yaitu bisa meraba nadi sendiri (Menari), kita bisa tahu jantung kita teratur atau tidak, ada kelainan atau tidak,” katanya.

Bagi masyarakat yang masih ragu dan ingin mendapatkan hasil akurat bisa melakukan konsultasi dan pemeriksaan ke dokter spesialis jantung di rumah sakit yang punya fasilitas memadai. Sebab, ada beberapa kasus aritmia yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Sebab, meski tidak terlalu berbahaya, namun pada kondisi tertentu, aritmia bisa menimbulkan komplikasi yang lebih parah. Di mana seseorang bisa tak sadarkan diri atau pingsan saat penyakit ini muncul.

“Melakukan rekam jantung dalam hal ini EKG , Jadi itu bisa menilai kelainan aritmia atau tidak,” kata dia.

Pemeriksaan awal ini untuk menentukan langkah berikutnya. “Kalau perlu pemeriksaan lanjutan kita lakukan yang namanya Holter Monitoring. Dari situ kita lihat selama 24 jam aritmia banyak tidak, kalau banyak lebih dari 10 persen, kita lakukan tindakan invasif non bedah,” kata dia.

Sebelum menentukan tindakan, dokter juga akan melihat apakah diperlukan langkah elektro fisiologis study ( EPS ). Tindakan ini untuk menentukan berat tidaknya gejala yang dialami pasien. “Kalau berat kita lakukan ablasi. kita bisa koreksi kita kendalikan dengan ablasi jantung,” ujar dia.

Berdasarkan data, angka keberhasilan tindakan ablasi sangat tinggi. “Ablasi jantung cukup simpel, bius lokal pada daerah paha kemudian apabila diketahui sumber listriknya akan dapat kita perbaiki, bila kondisi stabil keesokan harinya dapat pulang dan seringkali setelah tindakan ablasi tersebut tidak perlu dengan obat-obatan antiaritmia,” kata dia.

Guna memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mengatasai masalah ini, Mayapada Hospital Surabaya menyediakan fasilitas dan teknologi yang lengkap. Dengan begitu, masyarakat tak perlu repot-repot ke luar negeri untuk mengatasi masalah ini.

“Di Mayapada tersedia fasilitas lengkap mulai dari deteksi dini, diagnosis, sampai tindakan yang paling advance. Untuk Aritmia sendiri ada beberapa jenis terapi, dimulai dari pemberian obat dan yang paling terakhir adalah tindakan Ablasi. Saat ini kita sudah mampu melakukan itu dengan baik” ,” kata dokter Ira selaku Direktur Mayapada Hospital Surabaya.

Bahkan, lanjut dia, Mayapada Hospital Surabaya merupakan rumah sakit swasta pertama yang telah melakukan tindakan ablasi. Dengan team work yang mumpuni, bisa dipastikan tindakan ablasi akan berjalan dengan baik.

“Sepengetahuan saya untuk ablasi ini, first time untuk rumah sakit swasta di Surabaya tidak banyak RS di area Jawa Timur yang bisa melakukan tindakan ablasi. Mayapada Hospital Surabaya meski baru berdiri pada November tahun lalu, tapi kita sudah memberikan pelayanan ke masyarakat cukup lengkap, sesuai kebutuhan masyarakat,” kata dia.

Untuk itu, bagi masyarakat Surabaya yang mengalami gejala aritmia dia menyarankan segera melakukan pemeriksaan ke rumah sakit. “Detak jantung yang tidak normal atau tidak seperti biasanya, dapat berakibat tidak baik bagi kesehatan karena itu harus segera diperiksa dengan benar,” ujar dia.

Bagi masyarakat yang ingin ke Mayapada Hospital Surabaya tidak perlu ragu. Karena rumah sakit ini menyediakan layanan komprehensif kegawatdaruratan 24 jam 7 hari dalam seminggu, yang terdiri dari Trauma Center, Cardiac Emergency, dan Stroke Emergency.

Trauma Center memiliki tim komprehensif yang cepat dan sigap serta berkomitmen dalam menangani pasien dengan berbagai kasus cedera yang membutuhkan tindakan cepat.

Cardiac Emergency menyediakan layanan bagi pasien dengan serangan jantung, di mana dokter spesialis jantung intervensi dan Cath Lab siaga 24 jam untuk tindakan kateterisasi jantung dan Primary Percutaneous Coronary Intervention serta dokter spesialis bedah jantung yang mampu melakukan operasi bedah jantung dengan sayatan minimal (minimal invasif).

Selain itu, Stroke Emergency juga didukung oleh dokter spesialis saraf dan bedah saraf yang siap menangani pasien stroke, baik stroke akibat sumbatan maupun pendarahan dengan terapi trombolitik, intervensi, hingga operasi. Editor : Perdana Bayu Saputra
#RS Mayapada Surabaya #aritmia #Rumah Sakit Mayapada #gangguan jantung