Bukan hanya itu, ari-ari juga berfungsi sebagai sekresi atau detoksifikasi, yaitu tempat keluarnya atau penetralan racun di dalam tubuh melalui salah satu pembuluh dari tali pusat bayi.
Demikian diungkapkan dokter spesialis bidang obstetri dan ginekologi divisi obstetri ginekologi sosial Prof. Dr. Soetrisno.
“Setelah bayi dilahirkan, plasenta tidak diperlukan lagi. Tugas dan fungsinya sudah selesai. Jadi harus dipotong,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Solo.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Program Studi S3 Ilmu Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) menambahkan, saat ini sedangkan dilakukan penelitian manfaat plasenta sebagai obat antipenuaan dan kanker. “Masih sebatas penelitian. Jadi validasinya belum bisa dipastikan,” terangnya.
Sementara itu, dikutip dari https://fk.uii.ac.id/plasenta-adalah-ciptaan-allah-yang-luar-biasa/, plasenta berbentuk seperti piringan. Saat aterm, berat plasenta sekitar 500 gram dengan diameter 15-20 sentimeter dan ketebalan sekitar 2-3 sentimeter. Luas permukaannya hampir 15 meter persegi.
Unit struktur dasarnya adalah villi khorialis yang terdiri atas sinsitiotrofoblas dan sitotrofoblas.
Fungsi plasenta mencakup pertukaran gas, transfer metabolik, sekresi hormon, dan perlindungan janin. Transfer nutrisi dan obat melalui plasenta melalui proses difusi pasif, difusi terfasilitasi, transpor aktif, dan pinositosis.
Transfer obat pada plasenta akan dipengaruhi oleh sifat farmakologis obat dan sifat fisik membran plasenta.
Namun demikian pengetahuan manusia tentang plasenta ini masih sangat terbatas. Struktur dan fungsi plasenta diduga mempengaruhi kesehatan ibu dan janin, seperti pada kasus preeklamsia dan komplikasi yang terjadi sesudahnya, janin IUGR, hingga noncommunicable disease yang kelak terjadi setelah dewasa.
Memahami plasenta bisa menjadi satu kunci untuk menentukan intervensi pencegahan dan terapi yang akan memberikan dampak seumur hidup.
Kelainan struktur dan fungsional plasenta dapat menyebabkan gangguan pada kehamilan, dan berdampak pada kesehatan dan penyakit jangka panjang pada ibu dan anak. Bila pencegahan gangguan pada plasenta dan terapi-terapi terkait plasenta dapat dilakukan, maka tidak hanya luaran kehamilan yang akan terpengaruh, namun juga kesehatan seumur hidup ibu dan anak.
Data terbaru menunjukkan bahwa plasenta diduga berpengaruh pada transgenerasi. Bila penyakit-penyakit yang terjadi terkait masalah pada plasenta ini dapat dikendalikan, maka gangguan kesehatan yang terjadi pada ibu dan bayi yang dilahirkan dapat dikurangi. (mg1/mg2/mg3/wa) Editor : Damianus Bram