Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Apakah Bayi Boleh Dibedong dan Sampai Umur Berapa?

Andi Aris • Senin, 28 Agustus 2023 | 22:03 WIB
Ilustrasi bayi.
Ilustrasi bayi.

RADARSOLO.COM-Memiliki buah hati adalah impian bagi setiap keluarga. Hadirnya anak akan membuat kehidupan berkeluarga terasa sempurna. Bagi keluarga yang baru memiliki bayi, mereka akan merawat bayinya dengan penuh kasih, dan akan memberikan yang terbaik buat bayinya.

Orang tua akan banyak bertanya-tanya terkait perawatan bayi yang baik dan benar. Karena para orang tua masih bingung bagaimana cara memandikan bayi, menjemur, memakaikan popok, bahkan bagaimana cara menghangatkan bayi.

Sudah menjadi kebiasaan dari dulu jika bayi sering dibedong untuk menghangatkan badannya. Terlebih setelah mandi, saat menyusui, saat tidur di malam hari, dan di waktu awal-awal bulan kelahiran sang bayi pasti selalu dibedong.

Pembedongan bayi sendiri memiliki pro dan kontra. Hal ini disebabkan ada resiko insiden kematian bayi mendadak. Pembendongan pada bayi memiliki tujuan agar sang buah hati bisa tidur lelap dan nyenyak serta tidak kedinginan. Bayi yang dibedong juga akan memudahkan bayi tidur dalam posisi telentang. Serta penggunaan kain waktu pembedongan membuat bayi akan merasa hangat, sehingga bisa tertidur lelap.

Pembedongan secara tradisionan dan modern itu berbeda. Pembedongan secara tradisional biasanya akan dilakukan dengan ketat, namun untuk pembedongan modern akan cenderung longgar, karena menggunakan kain elastis. Pembedongan tradisional yang ketat biasanya dilakukan oleh dukun bayi untuk menghindari kaki dengan leter “X” dan “O”.

Tapi faktanya bayi baru lahir yang mature memiliki posture kaki katak, dimana bagian lutut menekuk ke atas dan posisi siku tangan menekuk ke atas juga. Hal ini menjadi salah satu alasan pembedongan sudah tidak dianjurkan. Namun, pembedongan modern bisa menjadi solusi untuk tetap mempertahankan kearifan lokal ketika bidan bermitra dengan dukun bayi/ paraji. Dimana pembedongan tetap bisa dilakukan namun dengan kain yang elastis dan longgar.

 Baca Juga: Tak Dibawa ke Posyandu, Kondisi Kesehatan 6.000 Balita di Wonogiri Tidak Terpantau

Pembedongan pada bayi berisiko meningkatkan Sudden Death Infant Syndrome (SIDS) jika dilakukan secara ketat. Beberapa posisi yang tidak dianjurkan adalah bayi dibedong dengan posisi miring. Hal ini membuat bayi cenderung tengkurap sehingga menghalangi jalan nafas bayi. Pembedongan bisa dilakukan pada bayi baru lahir hingga usia 4 bulan atau lebih awal 3-4 bulan jika bayi sudah mulai bisa tengkurap.

Seperti dilansir dari laman RSUP Dr Sarjito, berikut beberapa catatan ketika orang tua yakin untuk membedong bayinya :

  1. Saat sudah dibedong usahakan bayi dalam posisi terlentang.
  2. Hindari pembedongan jika bayi baru panas (hipertermia).
  3. Pembedongan dilakukan setelah bayi disusui, atau setelah periode kontak kulit-kulit (skin to skin) dengan ibu
  4. Pembedongan yang longgar sehingga bayi leluasa untuk menekuk tangan atau kakinya
  5. Bayi yang sudah dibedong dapat dibangunkan perlahan pada saat waktu menyusuinya
  6. Gunakan tempat tidur yang datar dan kokoh, hindari tidur di sofa/ ayunan, jauhkan selimut, bantal, boneka mainan, barang-barang lembut lainnya untuk menghindari tertutupnya wajah bayi dan menghalangi jalan nafas
  7. Hentikan pembedongan saat usia bayi 3-4 bulan atau pada saat bayi sudah mulai bisa tengkurap

Hindari praktik pembedongan jika orang tua masih ragu dan belum mengerti tentang cara bedong yang benar. Bila perlu, tanyakan kepada petugas kesehatan mengenai cara terbaik untuk mencegah SIDS, sesuai kondisi bayi Anda. (an)

 

Editor : Andi Aris Widiyanto
#bayi #tips #bayi baru lahir #kesehatan