RADARSOLO.COM - Fenomena LGBT berkembang di masyarakat. Perilaku seksual menyimpang tersebut bisa jadi muncul lantaran anak sudah terpapar sejak dini.
Bahkan mungkin akibat kesalahan orang tua yang tidak paham terkait pendidikan seks.
Konsultan Psikologi asal Tulungagung Ifada Nur Rohmaniah saat mengisi acara Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) di Sragen menyampaikan, beberapa hal yang perlu dipahami. Termasuk pendidikan seksualitas yang terlewatkan.
”Seksualitas itu luas, harusnya dari kecil itu sudah tahu identitas. Kalau dari usia 17 tahun sudah punya KTP ada identitasnya. Tapi sebelum itu juga harus jelas identitasnya. Bedanya bapak sama ibu. Harus dijelaskan organ reproduksinya,” terangnya.
Seorang anak harus mengenal tanda pubertas. Jika perempuan mengalami menstruasi, lantas laki-laki mengalami mimpi basah.
Meski demikian pendidikan seksualitas masih dianggap tabu. Lantas ketika masuk dalam ranah identitas, harus bisa mengekspresikan bagaimana selayaknya laki-laki atau perempuan.
”Terkadang punya anak laki-laki, karena saking sayangnya anaknya naik pohon malah dilarang khawatir jatuh. Ini jika dalam jangka panjang terprogram menjadi sangat sensitif,” ujarnya.
Kemudian dia mengingatkan peran ayah juga sangat penting. Jangan pasrah sepenuhnya saat mendidik.
Anak laki-laki tokoh identifikasi seorang ayahnya. Sedangkan anak perempuan yang dilihat sebagai contoh ibunya.
”Jadi bapak dan ibu ini adalah buku hidup buat anak, semua itu terinstal ke otak anak,” terangnya.
Pihaknya menuturkan jika ada hambatan, bisa terjadi ledakan psikologis. Situasi ekstrem yang dialami anak ke arah LGBT.
Jika tidak dicegah, maka kecenderungan menyukai sesama jenis semakin meningkat.
Dia menegaskan tidak ada seorangpun yang terlahir sebagai gay atau lesbian. Lantas faktor genetis seorang menjadi gay juga tidak terbukti sampai saat ini.
Mengutip Sigmund Freud, tokoh psikologi yang perlu dipahami orang tua. Peristiwa yang terjadi pada masa anak-anak, sangat mempengaruhi kehidupan di masa-masa selanjutnya.
Informasi yang tertanam di alam bawah sadar, sangat penting karena dari situ muncul berbagai gangguan emosi.
Ifada mengingatkan ketika orang tua berhubungan seksual saat anak masih tidur sekamar. Merasa anaknya sudah tidur lelap, hal tersebut berbahaya.
”Kalau berhubungan seksual, yang pindah orang tuanya atau anaknya yang dipindah, itu yang harus dilakukan,” tegasnya.
Dia mencontohkan klien, seorang siswa yang cenderung suka mengirim pesan stiker yang berhubungan dengan LGBT. Setelah ditanya mengaku punya anak laki-laki punya pacar Laki-laki juga sejak SMP kelas 2.
Saat ditanya mengapa suka dengan laki-laki, dia tidak mau seperti Bapaknya. Ternyata saat kecil sering melihat orang tuanya melakukan hubungan seksual.
Lantas setelah didalami, pada saat usia dini ada persepsi Bapaknya melakukan tindakan yang menyakiti ibunya. Sehingga ada gangguan persepsi pada anak tersebut.
”Setelah didalami memang ada kelalaian dari orang tua tersebut,” ujarnya.
Contoh lain, dia mendapati klien anak perempuan yang suka dengan perempuan. Setelah didalami, ternyata sejak SD kelas 5 sudah menyukai perempuan.
Kemudian dia mengaku Ibunya terlalu protektif dan tidak mengizinkan anak perempuannya dekat dengan laki-laki.
”Pesan yang diterima dari ibunya, bahwa laki-laki itu berbahaya. Ini yang melakukan konstruksi adalah kecemasan orang tua, khawatir ketika remaja anaknya kebablasan. Namun kasus ini gradasinya masih awal,” ujarnya.
Ifada mengingatkan bahwa otak anak seperti spon dalam menyerap informasi. Dia menekankan tidak selamanya pendidikan seksual dianggap tabu.
Pendidikan seksual seperti harus memahamkan bahwa bagian tubuh tidak sembarangan untuk bisa dipegang orang lain.
Seperti bagian dada, dan kelamin. Harus diajari untuk bereaksi seperti teriak ketika ada yang memegang area sensitif. (din/nik)
Editor : Damianus Bram