RADARSOLO.COM - Ketika anak mengalami panas tinggi, mual disertai nyeri pada area otot, tulang, dan sendi jangan disepelakan.
Apalagi jika disertai gejala lain seperti sakit kepala, kemunculan ruam, memar, dan bintik merah, hingga kesulitan bernapas.
Bila anak mengalami gejala seperti itu maka sebaiknya langsung diperiksakan ke fasilitas kesehatan agar secepatnya bisa ditangani dokter. Sebab, bisa saja ini mengarah pada penyakit demam berdarah (DBD).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Karanganyar dr Warsito mengatakan, DBD merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Biasanya ditularkan lewat gigitan nyamuk aedes aegypti.
Bila anak digigit nyamuk aedes aegypti, maka virus masuk bersama darah yang dihisapnya, kemudian muncul gejala seperti yang disebutkan di atas.
“Saat digigit nyamuk penyebab demam berdarah, maka seseorang bisa langsung menunjukkan tanda-tanda gejala demam berdarah,” ujar dia.
Namun, perlu diketahui bahwa ada juga orang yang terbebas dari gejala-gejala ini. Sebab, mereka memiliki kekebalan tubuh yang cukup terhadap virus dengue.
Sebenarnya, sampai dengan saat ini, belum ada obat khusus untuk mengobati penyakit demam berdarah tersebut.
Namun, jika mengalami demam berdarah, bisa menggunakan obat pereda nyeri seperti asetaminofen dan hindari obat-obatan dengan aspirin, yang bisa memperburuk perdarahan.
Ada dua gejala yakni ringan dan berat. Untuk yang gejala ringan itu biasanya terjadi dengan kondisi tubuh demam tinggi dan muntah hingga memicu tubuh dehidrasi.
Dengan kondisi seperti itu maka pengidap harus minum air bersih. Idealnya air mineral dalam kemasan dibandingkan air PDAM atau sumur.
“Garam dehidrasi juga dapat membantu menggantikan cairan dan mineral," terang Warsito.
Bisa juga mengonsumsi tylenol atau parasetamol. Obat ini dapat membantu menurunkan demam dan mengurangi rasa sakit.
Sedangkan obat antiinflamasi nonsteroid (NSA), seperti aspirin atau ibuprofen, tidak disarankan.
Sebab, dengan mengonsumsi obat tersebut bisa meningkatkan risiko perdarahan internal.
Sementara itu, untuk demam berdarah yang masuk kategori berat atau parah memerlukan penanganan yang ekstra yakni seperti pemberian terhadap suplementasi cairan intravena (IV) atau infus.
Ini jika pengidap tidak bisa mengonsumsi cairan melalui mulut.
"Bisa saja dilakukan transfusi darah bagi pengidap dengan dehidrasi berat. Kemudian rawat inap akan memungkinkan pengidap DBD untuk dipantau dengan benar, jika gejalanya memburuk," ujar dia. (rud/bun)
Editor : Damianus Bram