RADARSOLO.COM-Tuberkulosis atau TBC menjadi penyakit menular yang berasal dari bakteri.
Umumnya, TBC merupakan penyakit yang menginfeksi paru-paru. Namun, bakteri ini juga bisa menyerang organ lainnya. Pengobatan harus rutin dan tidak boleh putus agar bisa sembuh.
Dokter Elisabeth Ria Widyasrini mengatakan, penyembuhan TBC membutuhkan waktu lama.
Penyakit yang berasal dari infeksi bakteri mycobacterium tuberculosis ini bisa menular lewat droplet atau percikan dahak pasien.
Gejala klinis TBC seperti batuk selama dua minggu lebih. Baik batuk berdahak dan kadang tidak berdahak.
Kemudian disertai demam meriang. Lalu pasien akan mengalami nafsu makan menurun, secara otomatis berat badan (BB) ikut berkurang. Kemudian muncul batuk berdarah.
“Penderita juga mengalami sesak napas dan nyeri dada. Ketika gejala klinis sudah muncul, apalagi batuk berdarah, masyarakat diminta untuk segera memeriksakan diri,” ujar dokter di RSJD dr Arif Zainudin Solo ini.
Elisabeth menambahkan, pemeriksaan medis pasien dewasa melalui pengecekan dahak dengan tes cepat molekuler atau TCM.
Jika hasilnya positif maka dilanjutkan pengobatan. Sedangkan pada anak biasanya melalui skrining dengan form skoring.
Hal tersebut untuk mengetahui apakah anak pernah ada riwayat kontak erat denga pasien TBC dan lainnya.
"Lalu kita lihat hasilnya. Jika nilainya 6 atau lebih, kita bisa curiga anak terpapar TBC. Namun, tetap didukung pemeriksaan lanjutan. Kemudian jika satu rumah dengan pasien TBC bisa diatasi," jelas Elisabeth.
"Peralatan makan disendirikan, kamar jangan barengan dengan yang sehat, lebih baik disendirikan. Lalu gunakan masker dan terapkan PHBS," lanjut dia.
Lalu bagaimana penyembuhan TBC? Tata laksana pengobatan TBC paru dan TBC ekstra berbeda.
Untuk pasien yang baru terpapar TBC paru penyembuhannya 6 bulan.
Terdiri dari tahap intensif selama satu bulan pertama hingga ketiga. Pasien harus meminum obat rutin setiap hari.
Kemudian tahap intermiten pada bulan 3-6. Meminum obat rutin seminggu tiga kali.
"Itu harus rutin sesuai anjuran dokter. Karena evaluasi atau pemeriksaan dahak dilakukan pada bulan kedua, kelima dan keenam,” ujar dia.
Kemudian yang sudah pernah terpapar dan kambuh atau yang gagal pengobatan. Misal pemeriksaan bulan keenam masih positif, maka diulang lagi pengobatan dari awal selama delapan bulan.
“Kita takut kemungkinan kasus kambuh terbawa obat alias bakterinya resisten terhadap obat-obat sebelumnya," katanya.
Selain itu, ada juga TBC ekstra paru. TBC jenis ini menyerang organ selain paru, seperti otak, tulang, kulit, ginjal dan lainnya.
Paparan bakteri ini dikarenakan faktor yang sama. Namun, bedanya, bakteri masuk dalam aliran darah dan bersarang ke tempat-tempat terinfeksi tersebut.
Jangka waktu pengobatannya juga lebih lama. Yakni sembilan bulan dengan tata laksana pengobatan berbeda.
"Imbauan saya tetap laksanakan prokes pakai masker. Jaga kesehatan dengan PBHS, buang sampah pada tempatnya terutama limbah batuk,” ujar dia.
Kemudian menerapkan etika batuk. Lebih baik pakai sapu tangan langsung cuci, tisu dibuang tempat sampah. Kalau tidak ada pakai lengan atas.
“Jangan pakai telapak tangan, karena potensi bersentuhan dengan benda lain. Selain itu, istirahat cukup, olagraga teratur, makan begizi yang cukup dan berimbang," ujar dia. (rgl/bun)
Editor : Tri Wahyu Cahyono