RADARSOLO.COM - Perawatan luka tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Agar luka ringan dapat cepat sembuh dan mengurangi penderitaan pasien, maka perlu memahami cara-cara perawatannya.
Tidak hanya mahasiswa ilmu keperawatan yang harus memahami tentang perawatan luka. Tidak ada salahnya masyarakat umum juga belajar untuk penanganan luka secara mandiri.
Utamanya jika kondisi darurat dan perlu segera pertolongan. Seperti jari teriris pisau saat memasak dan sebagainya.
Dosen Akademi Keperawatan (Akper) Yappi Sragen Sudaryanto S.Kep, Ns mengatakan, untuk penanganan luka yang sederhana, tentu berbeda dengan luka berat.
Seperti luka yang butuh penanganan khusus akibat diabetes militus (DM) hingga kondisinya membusuk.
Sudaryanto mengatakan, dalam menangani luka ringan, misal akibat jatuh dari sepeda motor, langkah yang perlu dilakukan yakni pembersihan.
Jika tersedia, pembersihan awal bisa menggunakan cairan NaCl atau cairan infus. Namun jika tidak ada, cukup menggunakan air bersih.
”Kalau masuk ke perawatan medis, pakainya NaCl atau cairan infus,” terangnya.
Sudaryanto menjelaskan, dulu untuk perawatan luka ringan banyak menggunakan obat merah atau memakai betadine.
Namun sekarang hal tersebut sudah tidak direkomendasikan. Sebab, cairan tersebut bersifat korosif atau mengikis jaringan kulit.
Lalu dia mengingatkan agar tidak menggunakan alkohol untuk membersihkan luka. Dia menjelaskan, alkohol medis ini hanya difungsikan untuk membuka plester agar tidak lengket.
”Alkohol bukan untuk bersihkan luka, itu untuk membuka plester,” jelasnya.
Selanjutnya setelah selesai pembersihan, baru dibalut bagian yang terluka. Sudaryanto menambahkan, terkait luka ringan pasien yang sudah ditangani medis harus rutin untuk mengganti bagian yang dibalut. Jika lukanya ringan cukup sehari sekali.
Dia menegaskan, jika luka ringan sebisa mungkin menghindari air. Kemudian tetap menjaga kebersihan, khususnya di sekitar area yang terluka. Sebab, biasanya dibalut dengan kasa, kalau terkena air juga mudah basah.
”Jadi pergantian pembalut luka, selesai dibuka kemudian dibersihkan lagi dengan NaCl. Jangan lupa ketika selesai membuka perbannya, sedikit di tekan untuk memastikan ada tidaknya pus atau nanah,” terangnya.
Dia menyampaikan ketika ditekan, dan ada nanah bisa terdeteksi sejak awal. Namun jika keluar darah, justru tidak berbahaya. Namun jika ada luka bernanah, harus lebih sering mengganti pembalut luka.
”Misalnya luka DM, sehari bisa dua atau tiga kali untuk mengganti pembalutnya. Kemudian bagi perawat harus memotong jaringan yang membusuk,” terangnya.
Dia menyampaikan, pada luka DM yang tergolong cukup berat, butuh perawatan profesional.
Sebab, harus siap menggunting bagian luka bernanah. Sampai bada bagian tersebut yang keluar berupa darah.
”Kalau digunting tidak ada darah, artinya jaringan mati. Jika jaringan mati harus dibuang. Ketika ada darah artinya jaringan hidup,” terang dia.
Sudaryanto mengatakan, untuk pembalutan di tempat terbuka tidak terlalu sulit. Namun untuk perawat profesional harus siap dengan luka di lokasi yang sulit. (din/bun)
Editor : Damianus Bram