RADARSOLO.COM - Banyak mitos mengenai konsumsi daging kambing. Selain dianggap bisa memicu hipertensi darah tinggi, sebaliknya daging kambing juga disebut-sebut justru mampu mengatasi anemia.
Nah, di momen jelang Idul Adha ini, tentu menarik mengetahui mitos atau fakta terkait daging kambing.
Sehingga Anda bisa lebih bijak dan tepat dalam mengonsumsi daging kambing, yang biasa dibagikan sebagai daging kurban saat Idul Adha.
Kandungan Nutrisi Daging Kambing
Dilansir dari halodoc, daging kambing punya kandungan zat besi heme yang tinggi.
Zat heme adalah zat besi yang lebih mudah diserap tubuh.
Kandungan ini banyak ditemukan dalam daging, unggas, dan makanan laut.
Sementara zat besi non heme biasanya ditemukan dalam sayur-sayuran.
Daging Kambing Atasi Anemia
Dengan kandungan zat besi heme yang tinggi, daging kambing memang bisa membantu atasi anemia.
Daging kambing juga merupakan jenis daging merah yang menyehatkan.
Selama Anda memasaknya dengan benar, seperti tak banyak menggunakan minyak dan garam.
Serta mengonsumsinya dalam jumlah yang tidak berlebihan.
Bahkan, dibanding jenis daging merah lain, daging kambing jauh lebih rendah lemak.
Dalam setiap 330 gram daging kambing, hanya mengandung 2,58 gram lemak.
Bandingan dengan daging sapi. Di mana dalam 330 gram daging sapi, mengandung 16 gram lemak.
Oleh karena itu, daging kambing bisa dijadikan salah satu menu makanan sehat bagi pengidap anemia.
Namun, pastinya harus dimasak dengan benar, tanpa banyak tambahan minyak dan garam.
Serta tetap diimbangi dengan jenis makanan sehat lain. Seperti sayur, buah, dan kacang-kacangan.
Bukan Satu-satunya Solusi
Kendati mampu bantu atasi anemia, namun daging kambing bukan satu-satunya jalan dan serta merta menyembuhkan gangguan kesehatan tersebut.
Sebab, anemia banyak jenis, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda pada tiap pengidap.
Untuk beberapa kasus, memenuhi asupan zat besi harian mungkin tidak bisa dilakukan hanya dengan menjaga pola makan. Termasuk hanya berpatok pada konsumsi daging kambing.
Melainkan juga perlu bantuan obat-obatan untuk mengatasinya. (ria)
Editor : Syahaamah Fikria