RADARSOLO.COM-Antibiotik adalah obat yang memiliki manfaat bagi tubuh.
Namun, penggunaan antibiotik tak bisa sembarangan.
Kepala Instalasi Farmasi RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso Wonogiri Woro Harini mengatakan, antibiotik adalah obat yang berguna untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan bakteri penyebab infeksi.
"Antibiotik ini untuk mengatasi bakteri. Bukan infeksi virus seperti flu, ataupun jamur. Ini yang terkadang masih belum dipahami masyarakat," kata dia, Jumat (7/6/2024).
Woro menerangkan, meski punya manfaat untuk menghambat sampai membunuh sel bakteri penyebab infeksi, antibiotik tak bisa digunakan sembarangan.
Itu bisa meningkatkan risiko resistensi atau kekebalan terhadap antibiotik.
"Kalau resisten, bakteri dalam tubuh kebal terhadap antibiotik itu," ujarnya.
Diungkapkan Woro, antibiotik termasuk obat keras.
Karena itu pembelian antibiotik harus sesuai dengan resep dokter.
"Saat menggunakan antibiotik, harus ikuti aturan yang disampaikan. Sehari berapa kali sampai dosisnya juga. Nggak bisa sembarangan," tegasnya.
Penggunaan antibiotik di rumah harus diawasi. Jangan memberikan antibiotik kepada orang lain meskipun dengan gejala penyakit yang sama.
"Habiskan antibiotik (saat diresepkan) meskipun gejala penyakit sudah hilang," beber dia.
Menurut Woro, resistensi antibiotik bisa karena penggunaan yang tidak ada indikasi, tidak tepat dosis.
Seperti terlalu lama atau terlalu singkat, bisa juga karena tertular dari pasien infeksi bakteri resisten.
Diungkapkan Woro, antibiotik banyak macamnya. Di antaranya adalah Amoxicillin, Penisilin, Cefadroxil, Super Tetra, Chloramfenicol dan lainnya.
Lalu bagaimana dengan ciri atau indikasi penggunaan antibiotik yang kurang tepat? Woro menuturkan, ada sejumlah indikasi.
"Misalnya diare cair tanpa darah, luka kecil, batuk pilek tanpa sesak dan lainnya," pungkas dia. (al/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono